Saturday, 20 September 2008

Setegar Karang Atau Seganas Ombak

Ombak dan karang bukannya tidak akur. Meski keduanya dicipta untuk saling gempur namun keduanya adalah tetap dua unsur yang ada untuk tujuan sama. Dengan ganasnya, sang ombak memang tidak pernah lelah menerjang untuk menguji ketegaran karang. Tapi dengan sabar juga sang karang tetap bercokol dan tak bergeming atas terjangan itu. Entah sejak kapan ombak mulai menggempur, dan selama itu pulalah karang mulai bertahan.
Kini semua makhluk mengakui ketegaran karang yang tidak pernah musnah meski terus menerima gempuran. Semua makhluk juga mengakui akan keganasan ombah, meski tidak pernah berhasil memusnahkan karang, tapi ombak tidak pernah putus asa melakukan misinya secara terus-menerus.
Setegar karang atau Seganas Ombak? Contohlah keduanya, tapi bukan saling gemprnya yang diimami. Belajarlah dari keduanya akan makna sebuah kesabaran, tawakal, ikhlas, kerja keras dan konsiten. Keduanya telah menunjukkan apa yang kita semua sampai lupa untuk menyadarinya.
Apapun yang diingnkan makhluk atas sesuatu tentu tidak pernah tercapai percis sepeti harapan, karena Sang Khalik lebih tahu akan masa depan makhluk-Nya. Namun dengan sabar, ikhlas, tawakal, kerja keras dan konsisten dalam menggapai keinginan itu, maka aka berbuah hasil yang jauh lebih baik dari tujuan sebelumnya.
Ombak dan karang ini adalah contoh yang nyata yang bisa dipelajari. Tujuan ombak menggempur karang adalah untuk memusnahkan batu-batu cadas itu dari areanya. Betahun-tahun ombak tidak penah menyerah. Walau tidak kunjung berhasil namun dia lakukan secara beruang-ulang dengan sabar dan berserah diri kepada yang menciptakannya.
Begitu juga karang, dia juga tidak pernah lelah dan menyerah menahan terjangan dan gempuran. Sampai sekarang sang karang masih bisa hidup ditengah lautan meski ombak terus mendera. Tujuannya adalah satu, ingin tetap berada di tengah lautan, apapun resiko yang harus dia hadapi.
Kini semua mahluk juga tahu, karena ombaklah sang karang terkenal dengan tegarnya. Dan karena karang pulalah sang ombak terkenal dengan keganasannya. Ombak tanpa karang hanya menjadi riak yang tak berarti apa-apa. Dan karang tanpa ombak hanya sebuah onggokan batu yang tidak memiliki wibawa sedikitpun.
Jadilah ombak yang selalu memberikan ujian kepada karang. Dan jadiah karang yang selalu tegar menerima ujian ombak. Kemudian jadilah seperti keduanya yang hidup dalam satu ekosistem yang akhrinya bermanfaat bagi makhluk hidup yang ada dihabitat itu.
Jangan benci karena diuji, karena setiap ujian akan meningkatkan derajat. Jangan akut memberikan ujian, karena ujian yang berbobot akan menjadikan orang lain lebih hebat. Setegar karang atau seganas ombah bukan pilihan, tapi sebuah bahasa alam yang patut dikutip dan dijadikan catatan kaki (footnote) dalam setiap lembar catatan hidup.

Friday, 12 September 2008

Rahasia Bukit Pasir Terbesar di Dunia Terungkap

Misteri mengapa rangkaian bukit pasir terbesar di dunia tetap berada di tempatnya dan bentuknya relatif tidak berubah, akhirnya terpecahkan. Perlu diketahui, para ahli geologi sebelumnya bertanya-tanya mengapa bukit-bukit pasir setinggi 500 meter di gurun Badain Jaran, China, tetap berdiri walau menghadapi hembusan angin kencang.
Ternyata bukit-bukti itu dipersatukan oleh sistem air bawah tanah yang baru-baru ini diketemukan. Menurut peneliti Ling Li dari Universitas Queensland, Australia, dan rekan-rekannya, walau bukit-bukit itu kering di bagian luarnya, namun air di baliknya melekatkan butir-butir pasir sehingga mereka kuat menahan gempuran angin.
Dalam penelitian, para ilmuwan menemukan air saat menggali sedalam 20 cm di bawah permukaan bukit pasir. Dan ketika mereka menggali sedalam satu meter di antara dua bukit, maka air mulai menggenangi lubang galian tersebut, padahal kedalaman lubang masih berada 17 meter di atas ketinggian permukaan salah satu danau yang dekat lokasi itu.
Diduga, air-air ini berasal dari lelehan salju di Pegunungan Qilian, 500 kilometer barat daya gurun. Lelehan mengalir melalui rekahan di pegunungan dan masuk ke lapisan batu karbon, sebelum masuk ke sistem bukit pasir Badain Jaran. Bukit-bukit pasir gurun Badain Jaran dikelilingi oleh 72 danau, dengan luas total 23 kilometer persegi.
Hingga penelitian ini diungkapkan, tidak seorang pun mengira ada banyak air di dalam gurun itu. Para ilmuwan memperkirakan ada sekitar 500 juta meter kubik air melewati wilayah itu tiap tahun."Temuan ini bisa dijadikan suatu sistem untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah tersebut," kata Ling Li.
Pemerintah China sendiri berencana mengembangkan proyek pengadaan air di sekitar Pegunungan Qilian, yang akan menyediakan sekitar 250 juta meter kubik air tiap tahun.Nah, dengan adanya air di gurun, rencana itu mungkin tidak penting lagi. Namun mereka memperingatkan bahwa pengambilan air dari bukit pasir bisa menyebabkan bukit-bukit itu berubah bentuk, dan mungkin akan mempengaruhi ekosistem setempat.
Nb: Dikutip dari berbagai sumber.

Wednesday, 20 August 2008

Jujur Itu Lebih Baik

Tidak dibuat-buat, semua keluar dari ketulusan hati yang paling dalam.
Tidak ada kebohongan, tidak ada keterpaksaan dan tidak ada basa-basi.
Katakan 'tidak' jika memang tidak suka.
Katakan 'iya' jika memang benar-benar suka terhadap sesuatu.
Jangan membolak-balik perasaan hati, karena hal itu menyakitkan.

Jujur, tekadang memang pahit.
Tapi lebh pahit jika kebohongan justru terbongkar dikemudian hari.
Jujur itu cinta, jujur itu damai, jujur itu ketenangan dan jujur adalah kehidupan.
Mencintai diri sendiri adalah sebuah kejujuran.
Terus terang mengungkapkan cinta kepada orang lain juga kejujuran yang patut dihargai.

Seorang penulis akan menghasilkan karya menakjubkan dengan asa kejujurannya.
Seorang pelukis yang menggores kanvas dengan warna-warna kejujuran, akan menghasilkan lukisan yang mengagumkan.

Jujur itu Cinta, Cinta itu Tulus, Tulus itu Ikhlas, Ikhlas itu Sabar dan Sabar itu tidak pernah mengeluh. Dan yang pasti, jujur itu pasti lebih baik dari apapun.****

Monday, 18 August 2008

Hitungan Ajaib

Lepaskan sejenak bebanmu hari ini. Jangan terlalu di porsir dalam bekerja. Mending kita main hitung-hitungan yang sedikit menakjubkan ini.

Penasaran kan? kenapa aku bilang menakjubkan? karena memang ajaib hehe.
Gak perlu aku jelasin panjang lebar deh, mendingan kamu yang udah mampir di blog ini segera ikuti perintah dibawah ini. Hitungan ini aku dapat dari temanku. Coba deh
Lumayan buat ngilangin stress. Kalo kamu nggak nyoba, gak bakalan tau..
Langsung aja, ikutin Langkah-Langkah dibawah ini ya.

1. Sebutin Tanggal lahir kamu.

2. Kalikan 4 (empat),

3. Tambah 13 (tiga belas),

4. Kalikan 25 (dua puluh lima ),

5. Kurangi 200 (dua ratus),

6. Tambah Bulan lahir kamu,

7. Kalikan 2 (dua),

8. Kurangi 40 (empat puluh),

9. Kalikan 50 ( lima puluh),

10. Tambah dengan dua digit terakhir dari Tahun lahir kamu (Contoh: 84),

11. Terakhir kurangi dengan 10.500 (sepuluh ribu lima ratus).

Dari langkah-langkah di atas, maka kamu akan menemukan suatu angka yang sangat unik dan membuat kamu heran. Believe it or not?

Sekarang, silakan kamu coba sendiri..Selamat Mencoba.!!!!

There Are Places I Remember (The Beatle)

Lagu ini begitu melegenda, seperti legenda 'The Beatle' yang terus dikenang penggemarnya. Kata-kata dalam lagu ini sangat sederhana, tapi dalam maknanya. Tidak ada satu tempatpun yang tidak meninggalkan kesan/kenangan saat seseorang mengunjunginya.
Suatu saat kita akan melihat sebuah tempat yang berbeda sekali dari yang kita kunjungi sebelumnya di tempat yang sama. Baik ataupun buruk, itulah kesan yang dirasakan. Perubahan tidak selalu menjadi lebih baik dan juga sebaliknya.

Namun, seluruh kenangan tetap tidak akan berubah. Semuanya sudah terpatri mati dalam memori. Dan suatu waktu memori itu akan menjadi inspirasi. Semua seperti yang diutarakan 'The Beatle' dengan lagunya 'There Are Places I Remamber' ini.
******************************************
(The Beatle)
There are places I remember all my life,
Though some have changed
Some forever, not for better
Some have gone and some remain.

All these places have their moments
Of lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I loved them all.

And with all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these mem'ries lose their meaning
When I think of love as something new

And I know I'll never lose affection
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them.
In my life I loved you more.

And I know I'll never lose affection [kasih saying]
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them.

In my life I loved you more
In my life I loved you more
********

Thursday, 14 August 2008

Untuk Merah Putihku....

Meski komponen warnaMu hanya terdiri dari Merah dan Putih. Cukup sederhana memang. Tapi aku tidak penah memandang remeh diriMu. Karena Kau adalah bendera Bangsaku, bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

17 Agustus 2008 genap 63 tahun usia kemerdekaan Indonesia. Selama itu pulau Kauterus berkibar dengan gagahnya. Tidak ada satupun rakyat Indonesia yang menerima teror saat mengibarkan Kau di tanah air, tidak ada juga yang mengintimidasi atau melarang Kau dikibarkan. Jika ada, aku tidak tahu apakah masih banyak yang rela berkorban untuk-Mu, seperti yang pengorbana para pahlawanMu jaman dahulu.

Untungnya, saat ini Indonesia sudah merdeka, dan Kau merupakan bendera lambang kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Kemerdekaan yang aku rasakan jelas bukan hadiah atau pemberian dari negara manapun, tapi hasil perjuangan bangsa Indonesia dengan kekompakannya yang rela memperjuangkan seluruh kepentingan pribadi, bahkan darah dan nyawa sekalipun., demi supaya Kau tetap bisa berkibar.

Pada Merah-Mu melambangkan darah para pejuang yang habis dikorbankan demi kebebasan generasi penerus termasuk aku. Merah juga melambangkan keberanian para pejuang bangsa dalam mengusir penjajah dan mempertahankan apa yang menjadi hak Negara tanpa kenal lelah.

Sedangkan warna Putih sendiri meruakan lambang, betapa sucinya perjuangan pahlawan ketika itu. Mereka sadar bahwa kemerdekaan yang diraih tidak akan dinikmati oleh mereka, melainkan oleh orang-orang yang hidup setelah mereka, termasuk juga diriku.

Semua pahlawan berjuang tanpa kenal lelah dan tidak kenal pamrih. Hanya berbekal bambu runcing dan senjata tradisional lainnya, mereka terus berusaha mengibarkan Kau setinggi-tingginya. Desingan peluru terus mengiringi, dentuman meriam juga terus meneror, namun tidak membuat surut semangat perjuangan pahlawan jaman dulu.

Akupun berusaha untuk tetap memaknaiMu Merah Putihku. Seperti aku memaknai betapa pahitnya perjuangan pahlawan saat beusaha untuk tetap mengibarkan-Mu dulu.

Merah Putih ku, Kaulah lambang kegagahan dan kesucian Indonesia. Gagah dan Suci merupakan dua kriteria generasi yang dibutuhkan Indonesia.

Aku tahu Kau begitu sedih saat melihat dari sebagian bangsaMu justru bangga menempelkan bendera negara lain di dada kiri mereka. Kau betul, mereka memang kurang menghargaiMu. Satu pertanda bahwa pemaknaan dan penilaian atasMu semakin luntur.

17 Agustus adalah hari kemerdekaanMu. Berkibarlah Merah Putihku. Julanglah angkasa. Tegaskan kepada bendera-bendera partai di Negeri ini agar sejenak menunduk ketika Kau berkibar. Mereka semua tidak akan sanggup berkibar, tanpa diriMu bekibar terlebih dahulu. Posisimu lebih tinggi dari bendera-bendera partai itu Merah Putihku. Bicaralah lebih lantang Kau darinya, itu wewenangmu.

Dirgahayu Indonesiaku..Tetap berkibarlah Merah Putihku!!!***

Tuesday, 5 August 2008

Cerita Ini Cukup Kita yang Tau ya....

Oleh: Basoruddin Subandi

Aku ingin tertawa jika ingat kejadian malam itu. Kakiku yang masih dalam keadaan sakit dipaksa ikut jalan-jalan oleh Fahmi dan Zainuddin. Mereka sahabat aku ketika masih sekolah di Darunnajah, Jakarta. Waktu itu kakiku keseleo dan benar-benar susah untuk berjalan, karena baru jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter saat sedang kegiatan lintas alam dalam sebuah aktifitas kepramukaan.

Setengah terpaksa waktu itu aku ikut kedua bocah yang gemar keluyuran malam itu. Ciputat adalah tujuan kami, dan billiar merupakan permainan yang sama-sama kami gemari, tapi tidak saat kakiku dalam keadaan sakit.

Setelah puas menghajar bola-bola segenggaman orang dewasa diatas meja hijau disebuah pusat permainan billiar, kemudian perut kami sama-sama terasa lapar. Dengan terpincang-pincang aku menyusuri trotoar jalan mengikuti langkah Fahmi dan Zainudin. Famhi dan Zainuddin bukannya prihatin, malah menertawai cara jalanku. Tapi, kadang-kadang mereka membantu , terutama ketika aku mau nyebrang jalan.

Singkat cerita, kami bertiga menemukan tukang jual nasi goreng. Namanya Udin, orang-orang memanggilnya Mang Udin berasal dari Jawa Barat. Dia sangat ramah dan senang bercerita. Waktu itu dia cerita panjang lebar tentang kemolekan gadis-gadis di Jawa Barat. Kami bertiga yang sama-sama pendatangi, masing-maign aku dari Kepulauan Riau, Fahmi dari Medan dan Zainuddin dari Palembang senang mendengar cerita Mang Udin itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Biarpun sudah larut malam, tapi Kota Jakarta tidak pernah sepi. Bahkan jam segitu, beberapa pick up tampak sudah mulai berlalu-lalang mengangkut sayur-mayur yang akan dijual di pasar Ciputat.

Cerita mang Udin tentang gadis-gadis Jawa Barat yang katanya aduhai menusuk-nusuk pikiran kami, seiring hembusan angin malam yang merasuk ke pori-pori dan membekukan akal sehat.

Zainuddin tampak menyilangkan kedua tangan didadanya, sementara Fahmi mengempit erat-erat kedua tangan dengan kedua pahanya. Dan aku masih mengelus-elus kakiku yang semakin ngilu karena angin malam yang semakin terasa dingin.

Mata Zainuddin tiba-tiba menatap lurus tak berkedip sambil tersenyum-senyum. Tingkahnya memancing aku dan Fahmi untuk ikut melihat kemana Zainuddin mengarahkan pandangannya.

Kami sama-sama melihat seorang wanita. Bagiku, dia sangat seksi dari kejauhan. Rambutnya panjang bergelombang, kulitnya putih. Tubuhnya yang semampai dibalut t-shirt pres body berwarna hitam. Sementara dibagian bawah hanya ditutupi sebuah rok jeans yang sangat pendek, bahkan nyaris terlihat bagian 'dapur'-nya.

Zainuddin yang sebelumnya mendekap erat tubuhnya dengan kedua tangannya, dan Fahmi yang selalu mengepit kedua tangannya spontan berdiri dengan gaya caper alias cari perhatian.

"Suiiiiit,,suiiit.....Cewek!!," panggil Zanuddin.
"Godain kita dong!!," timpal Fahmi.

Aku memilih diam, karena kurang PD alias Pecaya Diri dengan keadaan kakiku yang pengkor. Sementara, Zainuddin dan Fahmi saling bergantian mengeluarkan segala jurus pamungkasya yang dibawa dari Sumatera untuk berusaha meluluhkan sosok aduhai itu. Dengan sepatu hak tinggi, makhluk malam itu semakin tampak sempurna adanya.

Bukannya jual mahal. Karena merasa ada yang mengggoda wanita itu justru mendekati kami bertiga, bahkan berempat dengan Mang Udin yang sedang sibuk membereskan piring bekas makan kami.

Aku ikut berdiri saat melihat wanita itu mendekat. Namun aku merasa ada yang tidak beres saat sosok yang kami kira wanita itu mulai menyeberang jalan menuju tempat kami.

Dari gayanya aku yakin dia bukan wanita sungguhan, melainkan wanita jadi-jadian alias waria. Zainuddin belum menydari hal itu, begitu juga dengan Fahmi. Pikiran kedua sahabat ku itu sepertinya sedang dibayang-bayangi gadis-gadis Jawa Barat ala cerita Mang Udin. Akupun mulai melangkah menghindar. Percuma mengingatkan mereka, karena sudah terlambat.

Benar dugaannku, dia memang wanita jadi-jadian. Aku semakin yakin ketika dia mengeluarkan kata-kata.

"Maas,, manggil saya ya. Siapa tadi yang manggil!?," tanya waria itu dengan nada dan gaya yang kemayu.

Aku tidak bisa berkata apa-apa, kecuali melihat Fahmi dan Zainuddin yang saling beradu pandang seolah saling menyalahkan. Kemudian, seperti memberi isyarat sebuah aba-aba, Fahmi dan Zainuddin serentak berteriak.

"Bencooooooong!!," kemudian keduanya lari tunggang-langgang.

Dengan spontan, aku juga ikut lari kedua sahabatku itu. Kakiku yang semula terasa sakit, ngilu dan terasa mau patah, tidak terasa lagi saat. Bahkan sebatang kayu yang sempat kujadikan tongkat, entah kulempar kemana.

Merasa kami lecehkan, ciptaan Tuhan berbodi wanita dan berperabot pria itu tampak kesal. Awalnya kami lihat dia megejar sambil mengumpat habis kami bertiga. Namun karena kami sedang dihantui rasa takut yang mendalam, sehingga, jangankan seorang bencong, sprinter kaliber dunia sekalipun mungkin tidak akan mampu mengejar kami saat itu.

Nafas kami tersengal-sengal. Kami istirahat disebuah mushalla setelah yakin tidak ada yang mengejar. Kemudian kami beradu pandang dan saling menertawai satu sama lain. Sekaligus heran dengan kondisi kakiku yang sehat seketika.

"Cerita ini cukup kita yang tau ya," kata Zainuddin tiba-tiba membuka kata-kata sambil menahan tawa. Fahmi justru tertawa mendengar ucapan Zainuddin itu.

"Mang Udin tau bego," katanya. Kemudian kami bertiga tertawa terpingkal-pingkal bersama sampai membangunkan seorang gelandangan yang tidur di Mushalla itu.***

Wednesday, 30 July 2008

Pohon Yang Rindang Tidak Berdiri Sendiri

Oleh: Basoruddin Subandi

Batangnya kokoh menyanggah. Ranting, dahan, daun, bunga dan buah tampak segar dan menyegarkan. Semuanya bergelayut manja sambil menari dan berdendang merdu diiringi bayu yang terus menerpa.

Ratusan cabangnya saling-silang memberi jalan bagi semut dan
binatang-binatang lain yang bersemayam disana.

sambil bermanja-manja, dedaunan yang merimbun tawarkan keteduhan bagi
cacing dan penghuni tanah lainnya.

Pohon yang rindang menyapa lingkungan dengan hati dan perasaan. Melihat tidak hanya semata-mata dengan mata, dan berbuat tidak
semata-mata untuk dirinya pribadi.

Sumber Air dalam tanah pun tidak ragu mengalirkan airnya
untuk pohon seperti ini. Pohon yang mengayomi selalu dinanti makhluk
disekiarnya. Tidak perlu berfikir panjang bagi siapa yang ingin
memberinya bantuan.

Pohon yang rindang selalu memberi, dan kemudian diberi, disenangi dan
tanpa ada yang membenci. Pohon yang rindang kian tegar berdiri.

Dahsyatnya badaipun 'tak akan mampu menggoyangkannya. Karena akarnya
dicengkeram oleh tanah-tanah yang sehat. Tanah yang selalu disirami
dengan air yang tak berhenti mengalir.Dan pohon yang rindang selalu mendapat dukungan moril oleh penghuni disekitarnya.


Pohon yang rindang dan yang bermanfaat untuk lainya. Tentu tak satupun
ekosistem disekitarnya merelakan sang pohon diusik apalagi dimusnahkan.
Pohon yang rindang, yang keberadaannya penuh manfaat. Kedatangannya
selalu dinantikan dan kepergiannya tidak ada satupun yang mengharapkan.

Atas kerindangan, manfaat dan kekokohannya. Badaipun bertekuk lutut dan
menjadi sahabat yang siap melindungi dan membela sang pohon.

Jadilah pohon yng rindang. Pohon yang selalu meneduhi binatang melata
yang butuh perlindungan. Pohon yang mengutakaman kepentingan
lingkungannya ketimbang dirinya.

Simbiosis mutualisme. Kerjasama yang saling menguntungkan. Mata rantai
biologi mapan dengan sendirinya. Pohon terus melindungi dengan
kerindangannya. Sumber air terus merasuk ke akar pohon, dan pohonpun
semakin rimbun. Semuanya merasakan damai, tentram, aman, nyaman dan
sejahtera****

Thursday, 10 July 2008

Menilik Desa Air Glubi

- 60 Persen Remaja Disana Putus Sekolah

Oleh: Basoruddin Subandi

Sengatan sinar matahari siang itu sedikit terhalang daun kelapa yang melambai-lambai, sehingga panasnya tidak terlalu membakar kulit. Rumah-rumah suku laut berjejer tak beraturan disepanjang pantai dengan ukuran yang cukup kecil, berdinding dan berlantai papan, serta hanya disangga dengan kayu seadanya dan beratapkan jerami. Itulah sebuah gambaran suku laut yang ada di Desa Air Glubi, Kecamatan Bintan Pesisir Kabupaten Bintan.

Air Glubi merupakan sempalan dari Desa Kelong yang baru dimekarkan sejak November 2007 . Dihuni 187 KK (Kepala Keluarga) dengan 702 jumlah penduduk. Sarana dan prasarana di desa itu masih terlalu minim. Cukup mengejutkan, dari pengakuan Camat Bintan Pesisir Syaiful Ikhsan, 60 persen remaja di desa yang baru berusia 5 bulan itu ternyata putus sekolah.

Mariana (13) merupakan salah satu contoh dari anak usia 7-15 tahun yang sekolahnya kandas ditengah jalan. Dia berhenti sekolah sejak duduk di kelas 5 SD. Ayah dan ibunya yang nelayan tidak sanggup membiayai pendidikannya. Seragam sekolahnya yang sudah sempit dan kumal sekarang selalu dia gunakan untuk pergi memancing ikan, menemani orang tuanya dilautan lepas yang dalam dan ganas.

Ketika ditemuia koran ini, Mariana terlihat masih mengenakan seragam merah putih lengkap dengan lambang 'tut wuri handayani' di saku kirinya, yang maknanya 'dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan'. Namun lambang itu melekat didada kirinya tanpa makna apa-apa lagi.

Dari sorot mata gadis yang masih keturunan suku laut itu menggambarkan betapa inginnya dia meraih bintang, namun penghasilan ayahya yang nelayan tidak mungkin dapat ia andalkan. Akhirnya dia dan ayahnya terpaksa membawa amanat undang-undang wajib belajar 9 tahun ketengah laut dan memberikannya kepada ikan-ikan yang keplaparan.

"Kadang saye ikut turun cari ikan ka' (di-red) laut sama 'tok (kakek-red), juge same nenek. Abis saye udah tak sekolah lagi," ungkap gadis yang mulai beranjak dewasa itu malu-malu sambil menyembunyikan warna baju seragam putihnya yang mulai kuning kehitam-hitaman karena jamur.

Disamping ekonomi yang melilit, sarana dan prasarana pendidikan yang ada di Air Glubi menjadi faktornya. Disana hanya ada satu sekolah dasar (SD), yaki SD 025. Setelah tamat SD kebanyakan anak-anak disana harus melanjutkan pendidikan SMP ditempat lain. Sedangkan untuk menuju sekolah SMP itu dibutuhkan transportasi laut yang harus siap setiap saat. Dan transportasi itulah masalahnya.

Sebagai gambaran, di Kecamatan Bintan Pesisir terdapat 4 Desa masing-masing Desa Kelong, Desa Numbing, Desa Air Glubi dan Desa Mapur. Antara desa yang satu dengan lainnya hanya bisa dihubungkan menggunakan jalur transportasi laut yang memakan waktu tempuh 15 hingga 30 menit. Dan satu-satunya desa yang sudah memiliki sarana pendidikn SMP hanya di Kelong.

Mendiang Ki Hajar Dewantara akan terenyuh jika menyaksikan keadaan ini. Tokoh pendidikan kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1889 yang wafat 26 April 1959 tersebut merupakan seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Semestinya dizaman yang serba gampang dan bebas merdeka ini anak-anak lebih mudah mendapatkan pendidikan.

Mak Yah (67), nenek Mariana, duduk mendampingi cucunya yang tidak sekolah lagi itu. Menurut Mak Yah, dia memiliki lebih selusin cucu dan rata-rata hanya memiliki bekal pendidikan SD, bahkan sebagiannya tidak selesai. Dan hanya satu cucunya yang lanjut sampai bangku SMP.

"Susah pak, mau sekolah tak ada uang. Disini yang ada cuma SD. SMP-nya ada di kelong. Pake pompong kalo mau kesana. Kita tak ada pompong, yang ada cuma sampan," kata Mak Yah sambil menunjuk sampan kecil yang biasa ia gunakan untuk mancing.

Dalam sehari, Mak Yah dan Suaminya, Pak Atak, setiap melaut rata-rata menghasilkan Rp50.000. Mereka berangkat mancing biasanya sekitar pukul 19.00 WIB dan baru pulang keesokan harinya sekitar pukul 10.00 WIB Pagi. Ikan hasil memancing kemudian dia jual kepada tauke (penampung).

"Kite tengok cuaca lah, kalau angin kencang kita tak turun laut. Tapi kalau tenang, saya dan bapak pegi mancing. Berangkat malam sampai pagi baru pulang," pungkas Mak Yah.

Mapur dan kelong adalah dua perairan tempat Mak Yah dan suaminya memburu ikan. Disini terdapat berbagai jenis ikan, seperti ikan krapu, ikan sono, ikan karang, ikan putih dan lain-lain.

Camat Bintan Pesisir Syaiful Ikhwan menggantungkan asanya pada gagasan pemekaran. Dia berharap dari pemekaran tersebut akan memperpendek rentang kendali dalam pelayanan masyarakat. Sehingga kedepannya pendataan jumlah penduduk miskin bisa terakomodir dan progam wajar (wajib belajar) 9 tahun bisa segera teratasi.

"Kita baru dimekarkan sekitar 5 bulan lalu, dan pelan-pelan akan kita benahi. Memang disini sekitar 60 persen anak-anak pada putus sekolah karena terbentur transportasi, biaya dan prasarana sekolah. Disini hanya ada SD, sementara SMP adanya di Kelong. Meski demikian, Bupati dan Wakil Bupati sudah sering kemari dan memberikan sejumlah bantuan. Mudah-mudahan aja daerah ini dapat bantuan program percepatan desa tertinggal dari Provinsi Kepri," kata Syaiful*****

Saturday, 7 June 2008

Lubang-Lubang Nakal di Jalanan Tanjungpinang


Oleh: Basoruddin Subandi

Matahari pagi menyapa sembari memberi motifasi masyarakat Tanjungpinang pagi kemarin. Pelajar, mahasiswa, pengojek, penjual sayur, sopir angkot, pegawai tingkat rendah hingga pejabat-pejabat hebat Pemko Tanjungpinang maupun pejabat Pemprov Kepri yang berdomisisli di kota '15 Batu' itu terlihat lalu lalang dijalan Raya. Mereka berlomba-lomba memburu rejeki sebelum habis dipatuk ayam.

Rudi Hartono seorang warga yang berdomisili di Batu 7 Kelurahan Melayu Kota Piring, Kecamatan Tanjungpinang Timur tidak mau kalah cepat dengan mereka. Dia berharap pagi kemarin menjadi awal yang penuh berkah untuk menjalankan usahanya sebagai penjual sayur dan lauk-pauk yang sudah dimasak kepada beberapa pelanggan tetapnya.

Dengan gagah Rudi membaur dalam kesibukan lalu-lalang kendaraan di jalan raya sambil membawa kepentingan yang jelas berbeda dengan yang lainnya. Mocin (sebutan keren untuk Motor Cina) yang dia kendarai, dipaksa untuk ngebut sampai keluar asap hitam. Jika Mocin tersebut mampu bicara, mungkin dia akan curhat kalau sudah tidak sanggup mengikuti keinginan Rudi. Motor itu terlihat renta dan jarang di service pula. velgnya tampak mulai karatan dan kaca sepionya hanya disebelah kanan saja, itupun sudah tinggal separo.

Rudi tak perduli, dipacunya motor bebek warna merah sambil menyalip beberapa kendaraan pejabat yang melenggok tenang tanpa beban. Satu, dua hingga tiga kendaraan berhasil dia salib. Naasnya, saat dia akan menyalib kendaraan berikutnya, Rudi diahadang sebuah lubang ditengah jalan, persis di Batu 9 depan Bintan Centre.

Secara hitungan matematik, Rudi tidak mungkin 'ngerim' atau berhenti mendadak. Jarak lubang yang ada didepannya cukup dekat, sementara kecepatan motornya lumayan tinggi. Cara yang mungkin bisa dilakukan Rudi untuk menghindari lubang mungkin dengan membanting setir kekiri atau kekanan. Sayangnya cara itu tidak mungkin dilakukannya karena dari arah berlawanan sebuah mobil Kijang Innova berada tepat disebelah kanannya, sementara sebuah lory (truk) sampah hanya berjarak sekitar dua meter saja dibelakangnya agak kekiri.

Rudi tidak punya pilihan. Satu-satunya jalan dia harus melewati lubang itu. Sambil berkerenyit dia berharap lubang 'nakal' yang menghadangnya itu tidak dalam. Siapapun yang melihat lubang tersebut jelas akan menghindarinya. Didalamnya tergenang air berwarna coklat bercampur lumpur. Diangkatnya kedua kaki tinggi-tinggi hingga sejajar dengan jok motor kesayanagnnya yang kabarnya kreditnya tinggal beberapa bulan lagi.

Saat kedua ban motor masuk kedalam lubang, guncangan hebatpun terjadi. Bersamaan dengan itu air didalam lubang muncrat kemana-mana. sebuah motor Vario yang ditumpangi dua orang pegawai rendahan Pemprov Kepri kecipratan air berlumpur. Sepasang pegawai itu memaki habis-habisan Rudi karena seragam kerjanya basah dan kotor. Rudi dinilainya telah bertindak sembrono dan tidak berhati-hati. Berbagai umpatan dikeuarkan untuk memaki Rudi. Jika di jaman Barbarian mungkin Rudi sudah dibunuhnya.

Rudi buru-buru nginjak remnya, berhenti dan berlari, tapi bukan menghampiri kedua pegawai itu. Dia bergegas memungut sayur-mayur dan lauk-pauk yang akan dia jual. Dagangan yang dia bonceng di jok belakang saling berpelantingan saat terjadi guncangan hebat barusan, bahkan dua bungkus sambal ikan tongkol pesanan pelanggannya tidak bisa dijual lagi karena gepeng dilindas transpot.

"Pengalaman apes saya hari ini. Maksud saya mau buru-buru biar dagangan saya cepat habis dan siangnya saya bisa kerja yang lain. Ee, malah dapat musibah gara-gara lubang itu," keluh Rudi sambil menunjuk lubang yang menganga seperti menertawainya seraya membersihkan bungkusan plastik yang dia pegang.

Untungnya, kedua pegawai itu tidak melanjutkan emosinya. Sebagai pegawai, keduanya tampaknya ingin menunjukkan sikap bijaksana dan bukan sikap orang Barbar. Sebelumnya Rudi sempat minta maaf atas ketidak sengajaannya. Namun pengguna jalan lainnya setidaknya berterimakasih juga kepada Rudi karena secara tidak langsung dia menunjukkan ada lubang menganga dijalan itu dan cukup berbahaya. Lubang itu persis berada didepan gerbang Bintan Centre.

Seluruh masyarakat Tajungpinang dihimbau untuk ekstra berhati-hati. Karena 'Kota Berbatu' Tanjungpinang yang terdiri dari Batu 1 hingga Batu 15 itu telah dipenuhi lubang-lubang nakal disepanjang jalannya. Tidak ada satu Batu pun yang jalannya bebas dari lubang. Kemarin Rudi, bisa jadi anda korban berikutnya.

Peringatan juga untuk Pemko Tanjungpinang, jalan di Ibukota Provinsi Kepri itu sudah terlalu banyak lubangnya. Tak terhitung lagi masyarakat dan pendatang yang jadi korban. Bagaimana jadinya jika ternyata turis yang jadi korban, atau pengusaha-pengusaha asing yang ingin berinvestasi di Kota berbudaya ini.****

Thursday, 3 April 2008

Ketika Iblis Merindukan Surga

Oleh: Basoruddin Subandi

Diatas sebuah pegunungan berbatu, disebelah selatan perkampungan yang terkenal dengan
sebutan kampung para Santri. Sesosok Iblis dengan bangganya mencengkeram sepenggal kepala manusia kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Sebilah pedang yang masih berlumuran darah terhunus di tangan kananya, darah segar pun mengucur membasahi bebatuan disekitarnya.

Lusinan kepala lainnya sudah tergeletak disekitar bebatuan tempat Iblis itu berdiri. Dan entah berapa banyak lagi kepala yang akan dia cari untuk menambah koleksinya. Sementara, setiap hari terdengar jeritan kepedihan orang-orang yang kehilangan anak tercintanya.

Memang inilah tujuan kehadiran Iblis di dunia. Dia datang untuk membunuh dan membuat kekacauan dimuka bumi. Semakin banyak kepala yang terpenggal, semakin
banyak pula kesempatan Iblis untuk hidup lebih lama didunia.

Sang Iblis menyeringai dengan penuh kepuasan diatas bukit berbatu yang dia anggap sebagai
singgasananya itu. Iblis pun merencanakan sebuah misi berikutnya. Sambil menyeringai
dia pandangi dengan seksama gerak-gerik kampung para santri yang tak jauh dari tempat dia berdiri, dengan sorot mata yang tajam dan buas.

Iblis tidak pernah tidur, dia tidak pernah lelah dan tidak pernah putus asa. Iblis selalu
mencari kesempatan untuk menggorok leher anak-anak manusia yang lengah. Pekerjaannya
tidak selalu mulus, tapi Iblis tidak pernah menyerah menjalankan misi biadabnya itu.
Merayu, menjilat hingga terang-terangan dia lakukan tanpa perduli.

Toh semua orang sudah mengetahui. Iblis adalah Iblis, dia sumber kekacauan dan kehancuran bagi anak cucu Adam yang hidup di muka bumi. Iblis sendiri tidak bisa menyembunyikan rahasia tujuan dia diciptakan kemuka bumi itu.

****
Di dalam pendopo, disebuah perkampungan para santri , beberapa orang sedang membentuk sebuah halaqah kecil. Beberapa orang itu terlihat sedang berdiskusi kecil dibimbing seorang sepuh berusia tengah baya. Pria itu berjubah putih dan berpakaian layaknya seorang kiai. Salah
satu topik pembicaraan mereka dalam diskusi adalah tentang kehadiran Iblis yang
meresahkan masyarakat di kampung sebelah mereka tinggal.

Sebelumnya Iblis memang telah berhasil mengobrak-abrik sebuah kampung tua berjuluk kampung Gembala yang tidak jauh letaknya dari perkampungan para Santri itu. Cara adu domba yang dilakukan Iblis efektif membuat kampung Gembala tidak lagi berpenghuni, sebagian ada yang menjadi pengikutnya dan sebagian lagi dihabisi nyawanya satu persatu.

Orang-orang dinpendopo itu kenal betul siapa Iblis. Tujuan iblis diciptakan memang untuk membuat kekacauan. Mereka tidak heran ketika Iblis melakukan pembantaian terhadap sekumpulan anak manusia, karena memang itu pekerjaannya.

"Bagi Iblis, semakin banyak kekacauan yang dia buat, maka semakin terbuka pintu surga
baginya. Padahal,berdasarkan ajara yang kita anut, pintu surga hanya akan terbuka jika kita
melakukan banyak perbuatan baik," ujar salah seorang diringi anggukan kepala secara
bersama-sama oleh rekan-rekannya yang lain.

Tanpa disadari oleh mereka yang sedang berdiskusi, rupanya Iblis sedang menguping
pembicaraan orang-orang itu sambil tetap menghunus pedang ditangan kanannya. Sedianya, Iblis itu ingin menghabisi seluruh manusia yang ada didalam pendopo itu, karena dia selalu ingat pesan mendiang bapaknya, jika ingin masuk surga perbanyaklah buat keonaran.

"Habisi semua manusia yang tidak mau ikut kata-katamu. Semua manusia adalah
pembangkang,bunuh mereka semua jika kamu menginginkan surga," Iblis mengingat pesan orang tuanya itu.

Sudah tidak terhitung kepala manusia yang berhasil ia penggal, juga tak terkira berapa
banyak anak manusia yang berhasil ia jerumuskan menjadi pengikutnya. Tapi Iblis rupanya
belum merasakan tanda-tanda pintu surga untuknya segera dibuka. Perkataan orang didalam
pendopo itu telah memberikan pemahaman baru akan doktrin orang tuanya yang dia ikuti selama ini.

Genggaman pedang ditanganya perlahan melemah. Sorot matanya yang sedianya tajam menatap halaqah beberapa orang itu,tiba-tiba meredup dan spontan menunduk. Iblis pun membalikkan badan dan pergi meninggalkan halaqah dan tidak jadi menghabisi manusia-manusia yang ada dalam pendopo.

***
Iblis kembali ke perbukitan berbatu, tempat ia melampiaskan keberhasilannya atas setiap
kepala yang berhasil ia penggal. Namun kali ini dia datang tanpa kepala manusia, tanpa
darah segar membasahi pedangnya dan tanpa seringai kepuasan yang ia perlihatkan.

Dia hanya terduduk lesu diatas batu berenoda darah yang mulai mengering. Kata-kata orang dalam pendopo itu membuat dia dipaksa memutar otak. Disamping, dia juga selalu ingat pesan orang tuanya.

"Aku hanya ingin menjamah surga.Tapi aku tidak tahu perkataan siapa yang benar dan harus aku ikuti," kata Iblis dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.

Dicampakkannya pedang hingga sejauh beberapa meter didepan tempat ia terduduk. Kemudian
dipandanginya onggokan kepala manusia yang ia koleksi diatas bebatuan itu. Iblis itupun
meneteskan air mata, dia masih belum mengetahui apakah semua yang telah dia lakukan selama ini benar adanya.

Perkataan orang di pendopo yang ia dengar itu terus terngiang ditelinganya setiapsaat, "Surga tidak untuk pembunuh. Tapi surga hanya untuk orang-orang yang sholeh, yang selalu berbuat baik dan selalu menghindari kekacauan," itulah perkataan yang baru sajas dia ingat. Dan sangat berlawanan dengan pesan orang tuanya.

Iblis pun berkelahi melawan egonya. Kehampaan hidup semakin dia rasakan. Sejauh ini dia tidak kenal benar atau salah yang dia lakukan, dia hanya ingin menjamah surga. Namun, orang tuanya
telah mengajari yang salah untuk mendapatkannya.

Kini semua orang sudah terlanjur mengenalnya sebagai pembuat keonaran, makhluk bengis tanpa hati nurani. Pembunuh, pemperkosa, pembantai, penghasud, penjilat, munafik, sombong, egois dan merasa benar sendiri.

Semuanya bergidik ketakutan saat Iblis datang kesebuah perkampungan. Namun, orang-orang selama ini tidak diam begitu saja. Beberapa orang bahkan sedang menyusun rencana untuk menghabisi Iblis itu, sebagai aksi balas dendam atas perbuatannya selama ini.

***
Iblis yang selalu merindukan surga itu masih terduduk lesu. Dia masih menimbang kebenaran,
antara perkataan orang tuanya dan perkataan orang yang berada di pendopo yang baru dia dengar. Tidak ada guru ketiga yang bisa dia mintai penjelasan. Perkataan orang di pendopo itu dia anggap masuk akal, namun dia tidak mungkin tidak mempercayai orang tua yang membesarkannya.

"Sungguh, aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku hanya ingin menjamah Surga yang pernah dijanjikan orang tuaku," suara Iblis itu lirih sambil menyesali kebodohannya.

Sang pembunuh, penghasud, penjilat yang terkenal berhati batu itu tak mampu menahan
penyesalan. Dia sadar, sudah terlalu cepat bertindak sebelum mengetahui betul bahwa yang
dia lakukan selama ini salah adanya.

Iblis yang sedang kalut itu tidak mengira jika beberapa orang ternyata sedang mengintai
keberadaannya. Orang-orang yang mengintai itu bersenjatakan panah, pedang, bambu runcing,
tombak hingga senjata api. Dengan misi memburu iblis sang pengacau untuk dibunuh agar tidak
ada kekacauan lagi dikampung mereka.

Orang-orang yang lengkap dengan berbagai senjata itu melihat iblis tertunduk lesu sambil
memukuli tanah, seakan ada hal yang sangat ia sesalkan.

Namun, karena sudah terlanjur dendam kusumat dengan sosok keji itu, orang-orang itupun pun tidak mau tau persoalan apa yang disesalkan Iblis. Wajah-wajah manusia itu terlihat sangat garang dan jauh lebih garang dari wajah Iblis yang sedang mereka pandangi.

"Bunuuuuh!!! Itulah iblis yang telah menghabisi seluruh keluargaku dan memperkosa istriku,"
teriak salah seorang yang tidak mampu menahan emosinya setelah melihat iblis yang dia cari
cukiup lama.

Seketika, orang itu melepaskan sebuah anak panah dari busurnya dengan kecepatan tinggi. Iblis
sempat kaget dan menoleh mendengar teriakan itu, tapi dia tidak menyangka jika dalam waktu
bersamaan ada anak panah yang mengarah kepadanya. Iblis tidak punya waktu untuk mengelak dan anak panah itu pun tepat tertancap dikeningnya, tembus hingga kepala bagian belakang.

Iblis terkapar seketika. Darah segar keluar dari kepalanya. Namun dia masih tetap
bernafas. Bahkan dia masih mampu bangun kembali.

Melihat sang Iblis Bangun, sekumpulan manusia yang sudah lengkap dengan berbagai senjata itu secara bersamaan mengeroyok Iblis. Mereka menghabisi Iblis itu tanpa memberi kesempatan
untuk membela diri.

"Seraaaang! Habisis dia, jangan biarkan dia hidup terlalu lama. Selama ada dia, hidup kita
tidak akan tenang," teriak salah seorang lagi dari mereka.

Dalam seketika, Iblis menerima serangan lanjutan dengan bertubi-tubi. Tidak hanya panah, tapi tombak dan bambu runcing menancap ditubuhnya. Belum lagi bekas sabetan pedang dibagian leher, kaki, tangan, paha, perut dan lainnya.

Ususnya terburai dari perutnya, biji mata kirinya keluar dan kedua daun telinganya
habis disayat pedang. Iblis terkapar tak berdaya, namun jantungnya masih tetap berdenyut. Meski demikian tetap tidak ada tanda-tanda dia akan mampu bertahan hidup.

"S..am..pai ket..e..mu di s..ur..ga, te..r..nya..ta bap..ak..ku ber..k..at..a be..n..ar,"
tiba-tiba iblis itu berucap lirih sambil terbata-bata. Setelah itu dia menghembuskan nafas terakhirnya sambil menyunggingkan sebuah senyum.****

Wednesday, 12 March 2008

Keagungan-Mu



Berulangkali Allah SWT menunjukkan kebesaran-Nya melalui hal-hal ganjil yang terjadi disekitar kehidupan manusia. Sang Khalik memperlihatkan kebesaran itu melalui sebuah kalimat 'ALLAH' melalui berbagai media perantara, seperti sekumpulan lebah yang membentuk formasi, gumpalan awan di langit, pada sisik ikan, hingga pada telur ayam seperti yang ada di gambar ini.

Seorang ilmuwan boleh saja mengartikan semua itu berdasarkan teori-teori yang dia ketahui. Tapi sumber segala teori tetap hanya satu, yakni ALLAH.

Bagi saya, terserah pribadi masing-masing meyakini setiap fenomana itu. Yang jelas, Allah memang Maha Besar dan Maha Pencipta. Apapun yang dia kehendaki pasti terjadi.

Ya Allah bimbinglah kami...
Jauhkan kami dari kekufuran...
Lindungi kami dari siksa-Mu...
Bukakan Pintu hidayah-Mu bagi kami...
Agar kami dapat melihat Keagungan-Mu yang hakiki..
Jangan Kau biarkan kami tidak tahu,
jika kami memang tidak mengetahui apa-apa..
Subhanallah...Engkau memang Maha Agung.........

Monday, 10 March 2008

Selembar Daun Dadap

Hari semakin senja. Dengan raut sedih dan mata sembab, Beri termenung dipinggir kali sambil memandangi daun dadap yang hanyut. Beri menjulurkan tangannya. Berhati-hati ia meraih daun selebar telapak tangan orang dewasa itu.

Aliran air yang lamban memudahkan Beri meraih daun yang hanyut itu dengan tangannya. Dalam waktu bersamaan, Beri mengambil sebutir batu kerikil berwarna putih kemerahan, seperti batu kapur seukuran jari kelingking orang dewasa.

Daun dadap dipegang dengan tangan kiri dan sebutir batu ditangan kanan. Sudah bisa ditebak apa yang akan dilakukannya. Beri mulai menorehkan sebaris kalimat. Entah apa yan ditulis, tapi sepertinya dia sedang mencurahkan isi hati yang sudah lama terpendam, sebuah bahasa kerinduan yang mendalam.

Tak lama, Beri pun kembali membungkuk dan menjulurkan tangannya ke kali. Dia melepaskan daun dadap yang telah ia bubuhi tulisan. Dibiarkan daun itu kembali hanyut terbawa aliran air yang entah sampai kemana akan membawa daun dadap tersebut. Setetes air mata bening sempat menetes diatas daun kering itu tat kala Beri membungkuk. Kemudian daun itu hanyut bersamanya dan bercampur dengan beningnya air kali. Beri begitu menggantungkan harapan yang besar kepada selembar daun 'bisu' itu.

Perlahan daun dadap pun hanyut. Beri terus memandangi hingga hilang diperbatasan kali yang membelok. Daun dadap telah menghilang, namun Beri masih tetap mengarahkan pandangnya kearah terakhir daun dadap itu ia lihat. Beri tampak semakin penasaran dan penuh harap.

"Ibu, aku rindu padamu, pulanglah bu," itulah sebaris kalimat yang ditulis Beri di selembar daun dadap yang baru saja ia hanyutkan.

Beri sudah melakukan hal tersebut semenjak ibu yang ia cintai pergi meninggalkannya 2 tahun sebelumnya. Usia Beri 7 tahun dan baru duduk di sekolah dasar kelas 2. Dia ditinggal ibunya ketika baru berusia 5 tahun. Sebelumnya, Beri anak yang cukup ceria dan bahagia hidup bersama kedua orang tua. karena Ibu dan ayahnya sangat mencintainya.

Sayang, kebahagiaan yang Beri rasakan sejak lahir itu terputus. Kedua orang tua Beri mulai sering bertengkar sejak ayahnya mengenal seorang janda beranak 1 yang kemudian dinikahi tanpa sepengetahuan ibunya, dan kemudian menetap di sebuah Kota yang tidak diketahui dimana. Ayah Beri tidak pernah lagi mengirim kabar apa-apa, apalagi mengirim sejumlah rupiah untuk menafkahi mereka.

Menyakitkan sekaigus menyedihkan bagi sang ibu. Setelah berita pernikahan suaminya dengan seorang janda tersebar, ibu yang sangat dicintainya lebih banyak berdiam diri dan sering menangis . Semangatnya sebagai seorang wanita, atau sebagai seorang ibu terkubur setelah pria yang dia cintai menghianati.

Jangankan untuk merawat Beri sebagai anak, untuk merawat diri sendiri saja seperti sudah tidak ada kemauan lagi. Semangat hidup ibu Beri benar-benar hilang sejak ditinggal suami tercinta. Beri tidak lagi merasakan kebahagiaan sejak saat itu. Apalagi, beberapa bulan kemudian, Beri ditinggal pergi oleh Ibunya yang tidak diketahui kemana dan apa tujuannya. Dan tidak ada pesan yang ditinggalkan sang ibu.

Mengetahui ibunya pergi, Beri menangis takhenti-henti. Tetangga sekitar iba terhadap kehidupan Beri yang menjadi sebatang kara karena ditinggal pergi kedua orang tuanya.

Beri tinggal bersama Pamannya. Sebelum pergi, ibunya pernah berpesan menitipkan Beri kepadanya, dan diminta jangan bercerita tentang kepergiannya.

Paman dan bibi Beri kemudian setia melayani keinginan dan kebutuhan Beri dengan penuh kasih sayang. Namun Beri tetap merasa berbeda dengan kasih sayang yang pernah diberikan oleh kedua orang tua kandungnya sebelumnya. Apalagi paman dan bibinya memiliki sepasang anak kembar yang usianya sebaya dengannya. Tentu saja paman dan bibinya lebih menyayangi kedua anaknya ketimbang dia.

Beri mulai masuk sekolah Dasar. Tidak lama, Beri mulai bisa menlis dan membaca. Kemudian Beri mulai menulis dengan objek apa saja untuk mengungkapkan isi hatinya. Kalimat pertama yang mampu ia tulis adalah ‘ibu’. Dan hampir semua buku sekolah yang dia miliki penuh dengan tulisan itu. Hingga akhirnya Beri pun lancar menulis sebuah kalimat, meski bentuk tulisannya tidak terlalu bagus.

Setiap pulang sekola Beri mulai sering pergi menyendiri kesebuah kali yang berjarak sekitar setengah kilometer di belakang rumah tempat ia tiggal berama pamannya. Disana Beri sering termenung dan menangis sendirian mengenang ibunya yang tak kunjung kembali. Sambil menyesali sikap ayahnya, karena telah tega meninggalkan dia dan ibu demi seorang janda yang baru dia kenal.

Di Kali itu Beri mulai menuliskan ungkapan rindu kepada sang ibu’ dihamparan selembar daun dadap yang jatuh dan terbawa arus kali setiap waktu. Entak sudah berapa banyak daun dadap yang ia tulisi dengan kata-kata serupa "Ibu, aku rindu, pulanglah bu", sambil berharap agar segera mendapat jawaban dari daun dadap yang jatuh pada hari berikutnya.

Namun jawaban yang dia harapkan tak kunjung ada, apalagi sampai membawa ibunya pulang. Jelas saja hal ini membuat Beri semakin sedih. Sudah sekitar setahun dan setiap hari Beri selalu di kali itu, sambil meratap dia menunggu daun dadap yang jatuh dan hanyut. Beri butuh jawaban dari pesan-pesan yang pernah ia tulis, namun tak pernah ada.


Daun dadap yang ia ambil di keesokan hari selalu bersih tanpa pesan balasan dari ibu. Kemudian ia tulis kembali pesan yang sama untuk berharap segera mendapat jawaban dikeesokannya lagi. Begitulah dilakukan Beri setiap hari. Menanti sebuah jawaban yang tak pasti dan melepas daun dadap untuk sebuah pesan yang entah siapa yang membaca. Tapi Beri masih tetap berharap ibunya kembali dan membaca semua pesan-pesan hatinya dihamparan daun dadap itu.***



New Entri

Lai Ba Ju

Jam 06.45 WIB, bel sekolah SD Impian baru saja dibunyikan. Para siswa dan siswi dari kelas 1 hingga kelas 6 segera berbaris didepan kelas m...