Jumat, 21 Januari 2011

'Di Penyengat Aku Terpikat'

(Sebuah Cerpen)

Doni mendongakkan wajah. Dilihatnya cuaca begitu cerah. Dirasakannya hangat jilatan matahari sore. Kacamata hitam dia lepas perlahan, kemudian memutar pandangan keliling pelabuhan Sri Bintan Pura. Pulau-pulau kecil yang indah. Sejumlah nelayan beriringan pulang dari mencari ikan, burung-burung laut beterbangan di permukaan air dan perahu-perahu tertambat rapi di sepanjang pelantar. Doni menghirup udara asing namun masih bagian dari Indonesia itu sedalam mungkin.

"Mau kemana bang. Pakai taksi?," Para supir taksi menawarkan tumpangan. "Oh, tidak pak. Terimakasih. Teman saya sudah menjemput," jawab Doni. Orang- orang berlalu lalang, ada yang baru berlabuh dan ada yang akan berlayar. Sri Bintan Pura adalah satu-satunya pintu keluar dan masuk bagi para penumpang yang akan pergi dan ke Tanjungpinang. Ada pelabuhan domestic dan ada pelabuhan internasional. Tanjungpinang juga salah satu kota yang menjadi objek kunjungan turis, terutama dari Singapura, Malaysia, Filiphina, Thailand dan beberpa turis eropa.

Handphone Doni berdering, Segera diraihnya dari dalam saku. "Halo, aku udah di Pelabuhan Sal. Kamu dimanan?," ujar Doni. "Jalan aja terus Don, ikuti pelantar beton bareng orang-orang yang baru turun dari feri yang kamu naiki. Aku nunggu didepan gerbang," jawab Faisal, sahabat Doni, dari balik handphone. Doni tidak kesulitan menemukan sahabatnya, karena Faisal berdiri persis didepan pintu keluar pelabuhan Sri Bintan Pura. Bersama Faisal seorang wanita berwajah natural, dengan penampilan sederhana. Namanya Lisa. Faisal belum sempat mengenalkannya kepada Doni. Dia adalah saudara sepupu Faisal.

Doni senang akhirnya bertemu sahabatnya. Karena baru pertama kali ke Tanjungpinang, Doni pun menceritakan pengalaman perjalanannya dari Jakarta hingga akhirnya sampai di Kota sahabatnya itu. Seperti yang dianjurkan Faisal, Doni mendarat di bandara Hang Nadim, Kota Batam. Kemudian menyeberangi laut dari Pelabuhan Telaga Punggur menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Cerita Doni, ketika di Batam dia sempat mampir di warung kecil sekedar untuk minum. Datanglah seorang pelayan yang menawarkan minuman. Doni heran saat seorang pelayan menawarinya teh obeng. “Minuman macam apa? Aku baru tau setelah pelayan itu menjelaskan, ternyata maksudnya es teh manis. Teh obeng jadi kata pertama yang aku dapat saat pertama menginjakkan kaki di sini,” cerita Doni sambil tertawa, Faisal pun ikut tertawa. Doni juga mengaku terkesan sejak pertama menginjakkan kaki di Tanjunpinang. Sebuah kota kecil yang baru pertama kalin dia kunjungi. Faisal hanya tersenyum menanggapi, dan berjanji akan membawa Doni ke tempat-tempat objek wisata yang lebih mengagumkan lagi selama sahabatnya itu berada di kota kelahirannya.

"O iya Don. Kenalkan, ini sepupuku, namanya Lisa. Lis, ini Doni sahabat aku di Jakarta,” Faisal memperkenalkan keduanya. "Halo, aku Doni," Doni menjulurkan tangan mengenalkan diri. "Saye Lisa," Lisa menjawab singkat dengan dialek Melayu yang kental, fasih dan kemudian membalas uluran tangan Doni. "Lisa ini sepupuku, dia pintar berpantun. Sengaja dia aku ajak kesini untuk menyambut kedatangan kamu dengan pantun-pantunnya," ujar Faisal. "Kayak mau kawinan aja pakai pantun-pantunan segala," timpal Doni.

"Berkebun mari kita berkebun

Sambil berkebun tanamlah tomat

Pantun bukan sembarang pantun,

Pantun untuk menyambut tamu terhormat,"

Tanpa basa-basi Lisa langsung berpantun. Doni manggut-manggut kagum. Dipandanginya Lisa yang dengan senyum bersahajanya juga memandangnya. Kemudian mengalihkan pandangan ke sahabatnya, Faisal. “Itu baru pembuka Don. Asal kamu tau, Tanjungpinang ini disebut juga dengan negeri Pantun,” ujar Faisal.

" Walau pak Amat berbadan legam

Tapi dia ramah dan santun .

Selamat Datang di kota Gurindam

Disebut juge Negeri Pantun,"

Lisa melanjutkan pantunnya dan membuat Doni tersenyum-senyum merasa sangat mendapatkan tempat yang istimewa. Pantun menjadi rahasia kedua yang diketahui Doni di Tanjungpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai orang Tanjungpinan asli, Lisa menyampaikannya dengan sangat santun. Layaknya orang yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah sebagai Duta Wisata dan Budaya untuk tetamu dari berbagai penjuru negeri. “Jadi Tanjungpinang disebut Kota Gurindam sekaligus Negeri Pantun?. Punya banyak julukan. Perkenalan yang sangat mengesankan sekali,” ujar Doni menyunggingkan senyum.

“Disini tempat wisatanya ada apa aja Sal?,” tanya Doni penasaran. “Kalau soal itu, kamu Tanya aja ke Lisa. Dia lebih tau soal wisata yang menarik disini. Dia juga nggak akan keberatan kalau kamu minta dia jadi gaet kok. Iya kan Lis,” ujar Faisal memancing sepupunya utuk ikut lebih aktif lagi dalam obrolan. “Tempat yang menarik ‘kat sini banyak bang, semue ade. Tergantung abang nak tengok ape? Kulinerkah, tempat bersejarahkah atau sekedar menikmati indahnya pantai,” ujar Lisa. Doni menyimak ucapan Lisa yang mengunakan bahasa Melayu. Bahasanya lembut, cengkoknya lunak. Seperti dialek Betawi. Pada akhir kata disudhi dengan huruf ‘E’. Hanya saja dialek Melayu akhiran E-nya lebih lunak dengan huruf ‘e’kecil. Sementara dialek Betawi akhiran E-nya lebih jelas dengan huruf ‘E’ besar. “Kalau semuanya bias kan?. Tapi aku percayakan sama kalian berdua aja deh. Yang penting aku nggak suntuk selama di Tanjungpinang,” pinta Doni.

“Jike mengantuk pejamkanlah mate

Bawalah tidur dengan selese.

Jike memang itu yang abang minte

Dengan senang hati kami bersedie,”

Lisa kembali menyambut dengan pantunnya. “Insya Allah saye akan tunjukkan tempat-tempat menarik yang ade kat kote Tanjungpinang ni bang,” janji Lisa. “Tenang aja Don, aku jamin kamu gak bakalan suntuk deh di sini,” Faisal meyakinkan.

*********

Hari berganti minggu. Dan tak terasa sudah hampir sebulan. Doni semakin terbiasa bercengkrama dengan deburan ombak di Tanjungpinang. Dia juga semakin akrab dengan wanita berdarah Melayu. Sekaligus kagum dengan adik sepupu sahabatnya yang masih menjunjung tinggi adat istiadatnya itu. Lisa pun tidak lagi merasa canggung menemani sahabat abangnya. Doni memandang Lisa sebagai sosok yang jauh berbeda dengan Faisal. Sahabatnya itu hampir sama sekali tidak terlihat jika dia orang Melayu. Pengetahuan Lisa akan sejarah dan kondisi Tanjungpinang tidak diragukan lagi, tidak seperti Faisal. Doni menjadi banyak tahu tentang Tanjungpinang dari Lisa, dan Lisa mulai membuat Doni penasaran akan seluruh rahasia yang ada di kota itu. Maka tidak heran jika hari-hari Doni lebih banyak dihabiskan bersama Lisa selama di Tanjungpinang karena didorong rasa keigintahuannya terhadap kota yang baru pertamakalinya dia kunjungi itu. Terlebih lagi, Tanjungpinang memang membutuhkan orang yang seperti Lisa.

Bersama Lisa, Doni telah menjajaki pantai Trikora, kawasan pusat Wisata Lagoi, Gunung Sri Bintan, dan beberapa lokasi wisata lainnya. Tanjungpinanh adalah bagian dari Pulau Bintan. Di Pulau Bintan terdapat dua pemerintahan, yakni Pemerintah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.

Kebersihan dan keindahan laut di Pulau Bintan membuat Doni merasa senang. Apalagi, dalam setiap kunjungannya, Lisa selalu menjelaskan dengan runut apa yang ingin dia ketahui. Sehingga Doni tidak hanya melihat yang terlihat indah, namun secara pengetahuan pun dia mendapatkannya. Dan tidak satupun pertanyaan yang jawabannya dilewatkan. Lisa cukup menguasai sejarah daerahnya, faham akan kondisi geografis dan hampir semua yang Doni ingin ketahui tentang Tanjungpinang dia mampu menjelaskan dengan bahasa yang mengalir dan akurat. Suatu ketika Doni diajak Lisa ke sebuah Kelenteng tua tempat peribadatan orang Tionghoa di perkampungan Senggarang, Kampung Bugis. Kelenteng itu diperkirakan usianya sudah mendekati 300 tahun. Doni senang sekali. Tak lupa selalu dia abadikan dengan kamera poket digital yang selalu dia bawa. “Aku mulai senang di Tanjungpinang. Karena ditemani seorang wanita yang pinter, baik, cantik, supel dan sangat sopan,” kata Doni apa adanya. Spontan membuat Lisa kikuk dan memerah rona wajahnya. “Ah abang ni, merepek lah,” timpal Lisa. Doni memperhatikan ekspresi Lisa yang salah tingkah dan tesipu-sipu.

*********

Suatu malam. Doni, Faisal, Lisa dan Reni makan malam di Melayu Square. Sebuah pusat kuliner masyarakat Tanjungpinang. Lokasinya persis di tepi laut dan di pusat keramaian. Berbagai makanan seafood tersedia disana, seperti kepiting rebus, udang goreng, ikan bakar, otak-otak dan lain sebagainya. Rini adalah teman wanita Faisal yang bias dikatakan pacar. Dan tentu saja sudah dikenalkan kepada Doni. Usai makan, mereka melanjutkan obrolan sambil menghabiskan waktu di bale-bale tepi laut yang disebuat western Square dan ocean corner. Sebuah taman yang di setting cukup indah persis berada di sudut pelabuhan. Berhadapan langsung dengan kediaman Gubernur Kepulauan Riau. Disana mereka menghabiskan waktu untuk beberapa jam.

Dari posisi duduknya Doni melihat indahnya gemerlap lampu-lampu rumah penduduk di sebuah pulau. Adalah Pulau Penyengat yang dilihat Doni. Lisa pun langsung menceritakannya. Pulau Penyengat adalah pulau yang sarat dengan nilai-nilai sejarah. Disebut penyengat karena konon berdasarkan cerita orang tua setempat, dulunya ada seseorang yang berniat mengambil air disebuah perigi (sumur) umum. Saat akan menimba, orang itu tiba-tiba disengat lebah. Akibatnya sampai sekarang pulau itu disebut Pulau Penyengat. Disana para nenek moyang orang Melayu banyak disemayamkan. Dan dari sanalah asal-muasal bahasa Indonesi ada. Sebuah karya sastra terbesar yang dilahirkan dari pulau mungil itu adalah Gurindam Dua Belas yang dikarang oleh Raja Ali Haji yang kini namanya diabadikan sebagai pahlawan Nasional.

Cerita demi cerita yang dipaparkan Lisa akan Pulau Penyengat membuat Doni semakin kagum. Tentang sebuah masjid disana yang dibuat dari kuning telur membuat Doni ingin segera mengunjungi Pulau itu sebelum kembali ke Jakarta. “Luar biasa kota ini. Masih ada rahasia dahsyat lain rupanya. Aku baru tau ternyata bahasa Indonesia dilahirkan dari Pulau semungil itu. Dan pulau itu bagian dari Kota ini. Sungguh beruntung liburanku kali ini, karena mengunjungi Kota yang tepat. Begitu banyak keistimewaan Kota ini. Kapan kita kesana Lis?,” Tanya Doni tanpa basa-basi. “Jike abang nak, besok juge boleh bang. Lagipule Pulau Penyengat tu tak jauh sangat bang. Naik pompon (boat kayu) Cuma sekitar 15 menit aje bang,” jawab Lisa. Doni senang mendengar jawaban Lisa yang begitu bersemangat untuk memperkenalkan kotanya kepada orang asing yang ingin mengetahui lebih jauh. Berulangkali Doni memuji Lisa, wanita dihadapannya itu benar-benar baik hati dan senang berbagi pengetahuan dengan orang lain tentang kelebihan yang dimiliki Daerahnya. Mata Lisa selalu memancarkan semangat dan aura positif, dia tulus dan tidak materialistik. “Seharusnya orang kayak kamu ini jadi pegawai di Dinas Pariwisata Lis. Khusus di bagian promosi dan dibayar dengan gaji tinggi,” Ujar Doni. “Tak payah lah bang. Lagipula untuk berbuat kan tak mesti menunggu jadi aparat dulu,” jawab Lisa singkat. Membuat Doni terdiam dan hanya manggut-manggut membenarkan ucapan wanita itu. Doni jadi teringat saat membaca tulisan ‘Jujur Bertutur Bijak Bertindak’ yang terpampang dibeberapa ruas jalan yang menjadi motonya Kota Tanjungpinang. “Kalau masyarakat disini kayak kamu semua, moto Jujur Bertutur dan Bijak Bertindak itu memang pas sekali,” ujar Doni. Lisa hanya membalasnya dengan tersenyum. Entah pujian yang keberapa dia terima dari sahabat sepupunya itu. Doni melirik kearah Faisal yang asik ngobrol dengan Rini sambil memandangi bintang-gemintang diatas langit Tanjungpinang, Keduanya larut dalam canda dan cerita sekaligus asmara.

Doni mencuri pandang ke wajah Lisa yang sedang menatap lurus ke laut. Diamati dengan seksama wajah wanita berkulit bersih dengan rambut panjang lurus terurai itu. Doni memandang Lisa seperti mutiara yang tidak henti-henti memantulkan cahaya, semakin mengenalnya, cahaya itu semakin bersinar terang. Sementara orang lain sepertinya tidak pernah melihat adanya cahaya yang penuh daya magis itu dari di dirinya. Sementara Lisa membiarkan rambutnya menari-nari ditiup angin. Kecantikan makhluk Tuhan itu membuat Doni semakin melayang. Walau tanpa make-up. Tapi Doni tidak berani menatap langsung mata Lisa, kecuali hanya mencuri pandang. Doni tidak mau merusak pertemanan mereka yang baru saja dimulai. Apalagi Lisa saudara dekat sahabatnya. “Jam berapa besok kita ke Penyengat Lis?,” Doni bertanya dengan harapan Lisa menjawab dan memalingkan muka kearahnya. “Lebih baik pagi bang, soalnye kalo terlalu siang panas pula nanti,” ujar Lisa sambil menolehkan wajahnya, persis seperti yang diharapan Doni. Mereka saling beradu pandang untuk beberapa saat, tapi kemudian Doni mengalihkan pandangan kearah pergelangan tangan Lisa yang dihiasi jam tangan cantik berwarna perak, dilihatnya waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Tak lama setelah itu, mereka pun pulang untuk beristirahat.

*********

Doni memandangi masjid bertembok tebal dan kokoh didepannya berwarna kuning keemasan. Konon, berdasarkan cerita masyarakat setempat, saat membangun masjid megah itu meracik semennnya tidak menggunakan air, melainkan menggunakan kuning telur ayam kampung. Entah berapa juta butir telur yang dibutuhkan dan darimana telur-telur itu didapat. Sebuah mahakarya luar biasa. Pada bagian gerbang masjid tertulis‘Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat’. Harus menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai halaman masjid. Tidak terlalu tinggi tangganya. Namun jika dilihat dari bawah hanya setengah bangunan masjid saja yang tampak. Kamera poket digital tak lupa disiapkan Doni untuk mengabadikan perjalanannya ke Pulau yang asing dan langka itu. Diamatiya empat kubah yang menusuk langit. Waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB. Masih pagi. Tapi panas sudah mulai menjalar kesekujur tubuh. Doni menyiapkan topi dan kacamata hitam untuk meredam sengatan sinar matahari. Sile naik atas lah bang, kate nak tengok masjid Penyengat,” ajak Lisa melihat Doni yang hanya berdiri mematung terkagum-kagum. Doni mengikuti langkah Lisa, Faisal dan Rini menaiki tangga demi tangga masjid. Sampai di puncak tangga, Doni kembali menghentikan langkah. Diamati dengan seksama sekeliling masjid, ada bale-bale tempat istirahat di kedua sisi halama masjid. Tak ada satupun pemandangan baru yang terlewatkan dari jepretan kamera digital Doni. “Bagusnya kita keliling aja dulu ke tempat-tempat bersejarah lainnya yang ada di pulau ini. Nanti siang baru kita kesini lagi, sekalian sholat zuhur,” Rini yang sebelumnya diam memberi usul. “Boleh juga tu Rin. Tapi sebentar ya, aku ambil beberapa foto lagi, biar dapat yang paling mantap,” izin Doni kepada teman-temannya.

Mereka berempat menyewa dua buah becak motor atau yang disingkat ‘bentor’ untuk berkeliling Pulau Penyengat. Cukup membayar Rp20 ribu saja per becak. Tak satupun tempat bersejarah yang terlewatkan yang ada di sana. Doni berulangkali mengabadikan gambar menggunakan kamera yang ia bawa. Sesekali dia minta di foto bersama Faisal, sesekali bersama Lisa, bersama Rini dan beberapa kali pula meminta tolong kepada orang yang lewat untuk memfoto mereka berempat. Seperti biasa, dan membuat Doni semakin terpikat, Lisa menjelaskan detil tentang sejarah tempat-tempat yang dia kunjungi. Layaknya turis, Doni menyimak penjelasan itu, terutama letak makam Raja Ali Haji yang sudah menjadi pahlawan nasional yang pernah diceritakan oleh Lisa. Setelah semua tempat bersejarah selesai diziarahi, mereka kembali ke Masjid. Kebetulan suara azan sudah dikumandangkan oleh muadzin.

Pulau Penyengat pernah dijadikan mas kawin oleh Sultan Riau kepada seorang wanita yang sangat ia cintai. Putri itu bernama Engku Putri. Berdasarkan mitos pula, jika seseorang sedang jatuh cinta dan berkunjung ke pulau itu, maka cintanya akan mejadi kenyataan. Mitos situ diyakini sampai sekarang. Sebaliknya, jika seseorang sedang menjalin hubungan namun tidak diirigi dengan ketulusan, maka setelah pulang dari pulau tersebut akan segera berakhir. “Berdoalah sesuai keinginan hati kamu Don. Kali aja apa yang kamu harapkan terwujud. Kalau niat kamu tulus, Insya Allah akan jadi kenyataan nanti. Percaya atau nggak, semua yang diceritakan Lisa tadi sudah diyakini olah seluruh masyarakat disini sejak lama.” Kata Faisal meyakinkan Doni. “Tenang Sal. Lagipula, kapan lagi kalau nggak sekarang aku solat dan berdoa di masjid bertuah ini,” balas Doni.

Interior masjid Raya Penyengat tidak megah, namun kokoh. Dinding-dindingnya tebal, selain tempat ibadah konon dulunya adalah tempat berlindung masyarakat dari serangan para penjajah Belanda. Pada pintu masuk masjid ada sebuah kotak amal yang besar terbuat dari besi. Selain itu terpajang sebuah Alqur’an kuno berukuran besar yang ditulis dengan tangan. Diletakkan dalam etalase yang berukuran besar pula. Masjid itu dikelilingi kuburan tua yang nisannya dibungkus kain berwarna kuning. Doni, Lisa, Faisal dan Rini solat zuhur berjamaah disana. Usai solat mereka kembali ke Tanjungpinang naik pompong dengan membayar Rp5000 per kepala. Sama seperti ketika mereka berangkat pada pagi harinya.

*******

Tiupan angin pagi di pelabuhan Sri Bintan Pura mengbar-ngibarkan rambut Lisa dan Rini. Saatnya Doni kembali ke Jakarta setelah sekitar sebulan menghabiskan waktu liburan kuliahnya di Tanjungpinang. Tiket sudah ditangan. “Aku nggak bakalan lupa dengan Tanjungpinang, terutama Pulau Penyengat. Suatu saat aku pasti akan kembali. Aku ingin berkunjung sekali lagi ke Pulau Penyengat. Duduk di Ocean Corner, makan di Melayu Square, naik pompong, pergi ke kampung Bugis, Senggarang, Dompak, sambil melihat nelayan sedang nyondong (menangkap udang) dan lain-lain. Karena aku yakin sekali, pasti banyak tempat yang belum sempat aku kunjungi selama disini,” ujar Doni.

“Aku juga yakin kamu pasti bakal kesini lagi Don. Karena berdasarkan mitos, orang yang sudah menginjakkan kaki di pulau Penyengat dan berwudhu dengan air disana, jiwanya akan dibimbing untuk kembali lagi walaupun Cuma sekedar melakukan ziarah,” kata Faisal. “Ah masak ia. Memang bener ya Lis? Kok kamu nggak pernah cerita sama aku soal yang itu,” Doni setengah tak percaya dan sambil berseloroh meminta pertanggungjawaban Lisa yang menjadi gaetnya sejauh ini. “Maaf bang, saye tak sempat cerite soal tu. Berdasarkan cerite orang-orang tue kat sini, memang macam tu lah bang,” kata Lisa. “Bisa jadi sih, bapak aku aslinya kan dari Bukit Tinggi. Ceritanya dulu dia main ke rumah temannya di sini, persis seperti kamu Don. Percaya atau nggak, saat dia pulang ke kampung, kemudian dia kembali lagi kesini. Dan ternyata dia bertemu dengan mamak aku disini. Mereka kemudian berpacaran, dan berlanjut sampai menikah. Akhirnya menetaplah dia disini sampai sekarang,” Rini menguatkan cerita itu berdasarkan sejarah hidup yang dialami keluarganya.

“Benar atau tidak tentang Mitos itu, aku memang sudah berniat akan kembali lagi kesini kok. Bagiku Tanjungpinang adalah negeri yang penuh misteri. Terus terang, disini damai, aman, nyaman dan terbebas dari hiruk pikuk kesemrawutan kendaraan. Beda dengan Jakarta,” kata Doni mengamati ketiga sahabatnya dari balik kacamata hitamnya. Doni juga tidak membohongi perasaannya. Tidak sekedar eksotis Penyengat dan keunikan kota Tanjungpinang yang menimbulkan hasratnya untuk kembali lagi. Tapi pesona Lisa telah menghipnotisnya untuk selalu kembali ke Kota yang baru pertama kali ia kunjungi itu.

Doni menjabat tangan Faisal dan merangkulnya tanda perpisahan sambil berulangkali megucapkan terimakasih atas semuanya. Doni melanjutkan menyalami Lisa, kemudian menyalami Rini sambil mengucapkan kata-kata yang sama. “Sebulan lalu kamu sambut aku dengan pantun Lis. Kali ini aku punya pantun yang sudah aku siapkan khusus,” ujar Doni. “Ape tu bang,” tanya Lisa penasaran.

“Kalau ada sumur di ladang,

Boleh kita menumpang mandi,

Jika ada umur panjang…..

Belum selesai Doni menyelesaikan pantunyya, langsung disambut koor oleh ketiga temannya. “BOLEH KITA BERJUMPA LAGI”……ketiganya lalu tertawa bersama-sama.“Itulah satu-satunya pantun perpisahan yang aku tau. Aku hafal ini sejak SD,” kata Doni tertawa.

“Anak gembale memanggul jerami,

Jerami diletak kat samping perigi

Salah dan silap maafkanlah kami,

Jike berkenan datanglah kemari lagi,”

Lisa membalas pantun Doni. “Terimakasih ya atas semuanya. Sumpah aku terkesan banget dengan Kota ini. Dan kalian aku tunggu di Jakarta,” ujar Doni. Kemudian Doni masuk ke dalam feri yang sudah mulai dipenuhi penumpang. Kemudian pintu ditutup oleh petugas. Tapi, tak lama didalam feri, tiba-tiba Doni keluar lagi dengan tergesa-gesa, menghampiri Lisa sambil menyodorkan sebuah amplop putih. “Sori Lis, aku hampir lupa. Ini untuk kamu, baca nanti kalo sudah di rumah ya,” ujar Doni sambil terburu-buru masuk kembali kedalam feri. Entah apa isinya, belum sempat Lisa bertanya, Doni sudah menggelontor pergi. Tak lama, kapal pun berangkat menuju Punggur, Kota Batam. Rute yang sama ketika Doni baru tiba dari Jakarta. Lisa memegang erat amplop sambil melambaikan tangan untuk Doni yang tampak dari jendela. Faisal dan Rini juga melambaikan tangan untuk melepas sahabatnya. Lambat laun kapal itu mengecil dan menghilang diujung samudra.

*********

Di kamarnya Lisa duduk didepan meja rias sambil membolak-balik sebuah amplop putih dari Doni. Tidak ada tulisan lain kecuali “to: Lisa” pada amplop itu. Membunuh rasa penasarannya, Lisa langsung membukanya. Didalamnya sebuah kertas putih bergaris dan harum, sama seperti bau parfum yang selalu dipakai Doni. Ada tulisan tangan di kertas itu. Dibacanya baris demi baris tulisan tangan Doni. Lisa tersenyum. Senyuman yang penuh makna. Lisa kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil terus membaca. Usai membaca bait terakhir, dilipatnya kembali surat itu dan dimasukkan kedalam amplop seperti semula. Dia dekap surat itu didadanya. Matanya kosong menerawang langit-langit kamar, dengan pandangan penuh harapn. Lalu dia bangun dan menyimpan surat itu di laci meja rias.

………… Suatu saat aku pasti kembali ke Tanjungpinang. Menjemput serpihan hatiku yang masih menempel pada dinding-dinding eksotiknya. Pulau Penyengat telah’ menyengatku’ dengan segala pesonanya. Di Penyengat aku benar-benar terpikat. Dan kamu jadi satu alasan kuat yang mendorong aku untuk selalu kembali..sampai ketemu di Kotamu!. Tertanda : Doni

Read More......

Jumat, 24 April 2009

Berita, Berita, Berita

Berita, Berita, Berita
Semua orang butuh berita
Berita baik, berita buruk dan berita apa saja
Semua media berlomba-lomba dengan berbagai cara
Untuk mendapat berita yang berbeda dan luar biasa

Berita, Berita, Berita
Dunia dirangkum dalam berita
Berita tentang derita atau tentang suka ria,
Tentang sebuah pesta, atau kampung yang porak poranda

Wartawan-wartawan berkeliaran
Kilatan blitz saling bersambaran
Siang, malam, panas, maupun hujan
Kamera lebih berharga dibanding kesehatan badan

Telepon berdering, berita murahan tersebar
Seorang maling jemuran hangus dibakar
Wartawan setengah enggan memuatnya di surat kabar
Karena yang ditunggu hasil vonis koruptor besar

Berita, Berita, Berita
Para pembaca mulai hilang simpati
Wartawan-wartawan sudah onani sendiri-sendiri
Nilai berita tak lagi sedahsyat cemeti
Suara masyarakat jadi terkebiri

Berita, Berita, Berita
Menulis berita dengan hati
Mengungkap hati jadi berita
Menyibak tabir dengan nurani
Menjaga nurani untuk sebuah makna
Makna untuk sebuah berita
Berita, Berita, Berita
Read More......

Rabu, 25 Maret 2009

Berubah??

Waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Berat badan semakin hari semakin montok. Hampir setap timbangan menghina saat digunakan. Pertanyaan demi pertanyaan pun ditujukan kepada diri sendiri. Apakah ini semua faktor waktu yang terus berubah, atau karena usia yang bertambah. Hati kecil menjawab, ini semua tidak ada kaitanya dengan waktu atau usia. Tapi karena kontrol makanan yang masuk kedalam tubuh kurang diperhatikan. Sehingga tidak hanya berat badan yang tak terjaga, tapi kesehatan pun menjadi terganggu.

Stelan kemeja kebanggaan dan celama jeans merk luar negeri semkain hari kian tak bersahabat. Saat akan dikenakan selalu menolak karena malu kepada majikan yang jadi gembrot. Stelan-stelan cantik itu memilih tetap berada didalam lemari, tidak mau keluar untuk acara pesta.

"Sungguh aku sudah tak mampu lagi melayani majikanku untuk tetap tampil menawan," kata kemeja-kemeja kesayangan.

Suatu saat, sebuah kemeja cantik dipaksa oleh sang majikan utuk menemaninya disebuah acara pesta. Barang mahal yang diimpor dari luar negeri itu menyembul kekanan dan kekiri dibagian pinggang, karena lemak yang menyundul-nyundul dari bagian tubuh yang membengkak karena kebanyakan kolesterol. Kemeja cantik itu jadi tidak bernilai dibuatnya, meski harganya mahal.

Dalam hal apa saja. Jangan pernah berharap yang lainnya disekitar kita berubah hanya untuk menyesuaikan diri dengan kita. Tapi perubahan itu harus dari kita. Kitalah yang menentukan sebuah barang itu menjadi mahal atau tidak berharga sama sekali.
Read More......

Jumat, 13 Februari 2009

Menembus Ruang dan Waktu

Tempat ini tak asing bagiku. Gemericik air tak henti-hentinya mengalir. Senandung kicau burug saling bersahut terus-menerus. Kurasakan hembusan udara yang belum tercemar volusi dan rimbunan pohon kopi yang menghalangiku dari serangan sinar matahari. Aku pernah berada disini. Bau jejakku jelas masih tercium. Tapi aku tidak merasakan berdiri lebih tegap dibanding hari ini sebelumnya.

Tubuh kecilku 25 tahun lalu, aku melihatnya berlari-lari ditengah kebun kopi seluas 6 hektare sambil menunggu ibu dan bapak yang sedang panen. Berkejaran dengan anak macan, pontang-panting ketika diserang sekelompok lebah, hingga berpetualang disebuah goa kecil yang terpencil. Semua kulakukan dikebun kopi ini.

Setiap sudut kebun nyaris tak ada yang berubah. Tetap teduh, produktif dan membangkitkan aku dari tidur panjang. Namun aku tak melihat lebah-lebah itu lagi kini, anak-anak macan dan sahabat alamku yang sangat membenci ulahku, dan kini aku justru kembali merindukannya.

Aku berpaling ke sudut lain kebun. Aku tersontak dan tertawa. Ternyata aku melihat tubuhku yang kecil tak mampu mengangkat beban satu kaleng kopi basah hasil panen bapak dan ibu. Ambisiku cukup besar untuk mengangkatnya, namun tenagaku tak sebanding dengan beban itu.

Dengan ambisi yang besar, badan kecilku juga pernah terbawa pengait batang kopi yang biasa digunakan bapak untuk panen. Aku tak menangis, justru aku tertawa, bersuka ria karena bisa bercanda dengan alam. Bapak dan ibuku juga menertawaiku, begitu juga kakak dan adik-adik. Sejak saat itu aku semakin akrab dengan kopi-kopi disini.

Kini, setelah 25 tahun aku pergi. Hari ini aku kembali ditengah-tengah kebun ini. Aku disambut begitu mesra oleh setiap pohon yang mengelilingiku. Beberapa pohon yang baru ditanam bertanya-tanya, siapa sebenarnya aku. Namun yang lainya tidak akan pernah melupakan tingkah-polah kecilku dulu. Lugu, sembrono, alami namun disenangi alam.

Angin sepoi-sepoi menyambut kehadiranku dengan belaiannya. Aku bentangkan tanganku, kudongakkan wajah dan kubiarkan alam sahabatku menjamahku. Rinduku semakin dalam hingga membuat air mataku mengalir pelan megikuti kontur por-pori. Sorak sorai pohon-pohon kopi membuat aku semakin terharu. Semuanya berbaris rapi dan bersahabat.
Kebun ini meyimpan berjuta nostalgia. Tempat ini telah mengajarkan aku arti hidup yang sesungguhnya.
Read More......

Rabu, 11 Februari 2009

Nasib Supir Bus Pemprov Kepri (2-habis)


Gaji THL Dinaikkan Menjadi Rp1,25 juta
Keluh-kesah Paranto (53) dan parasupr bus very important person (VIP) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri yang diberitakan di Sijori mandiri edisi, Selasa (10/2), membuat para pejabat Pempov Kepri, takterkecuali Gubernur Kepri Ismeth Abdullah seperti terbangun dari mimpi panjang. Mereka terkejut dan baru sadar jika supir yang kerap mereka suruh, bahkan mungkun menyupirinya itu ternyata memperoleh gaji yang kurang layak.
Salah satu pejabat yang mengaku terkejut dan tidak tahu para supir Pemprov Kepri digaji rendah adalah Kepala Biro Umum Irmansyah. Pria yang baru sekitar satu bulan menjabat Kepala Biro Umum Kepri itu bahkan mengaku sempat ditegur Gubernur Ismeth Abdullah soal rendahnya kesejahteraan para spir dilingkup Pemprov Kepri.
Ismeth langsung memerintahkan Irmansyah agar memerhatikan nasib para supir tersebut dengan menakkangaji dan memberikan tunjangan lainnya. "Karena berita itu, beliau tadi menegur saya dan meminta agar memerhatikan nasib para supir. Itu suatu bentukkepedulian Gubernur kepadapegawainya, beliau kan tidak tahu sampai masalah gaji seperti itu," ujar Irmansyah saat dijumpai diruag kerjanya.
Sesuai perintah Gubernur, Irmansyah langsung menaikkan gaji para supir bus milik pemprov Kepri secara drastis, dari Rp815 ribu per bulan menjadi Rp1,25 juta per bulan. Gaji baru tersebut berlaku mulai bulan ini. Selain kenaikan gaji, para supir juga akan mendapat makan pagi dan makan siang, sama dengan pegawai lainya.
"Mulai bulan ini gaji PHL naik menjadi Rp1.250 ribu per bulan. Mereka juga akan mendapat sarapan pagi dan makan siang. Sama dengan pegawai lain di Biro Umum. Sebelumnya, gaji PHL memang Rp815 ribu dan ditambah sekali sarapan pagi saja." ujar mantan kepala Biro Humas dan Protokol itu.
Menurut Irmansyah, gaji para THL, sesuai Peraruran Menteri Dalam Negeri (Permendagri) disesuaikan dengan Upah Minimum Kota (UMK) dimasing-masing daerah. Dan Rp815 ribu sebelunya adalah sudah sesuai dengan UMK Tanjungpinang. Namun, Pemprov Kepri juga tetap memperhatikan nasib supir dari sisi lainya, termasuk kesejahteraan. Disamping itu, para supir juga mendapatkan pakaian dinas dalam bekerja, serta bantuan untuk setiap hari-har besar, seperti lebaran dan puasa.
Irmansyah mengakui kerja supir memang berat, terutama jika sedang padat kegiatan. Namun menurutnya tidak setiap hari dalam sebulan selama 24 jam para supir bekerja.
"Mereka tidak kerja tidak 24 jam. Namun kapan saja mereka dibutuhkan memang harus siap. Temporer lah, kalau lagi sepi, mereka banyak nganggur. Tapi kalau lagi padat, mereka memang harus kerja ekstra," kata Irmansyah.
Meski telah memutuskan bahwa gaji THL dinaikkan menjadi Rp1.250 ribu per bulan. Namun Irmansyah belum mengetahui bisa atau tidak para supir bus VIP tersebut diangkat menjadi PTT. Karena, menurutnya pengangkatan PTT sangat tergantung dengan formasi, kebutuhan dan ketersediaan anggaran di Pemprov.
Sementara itu, Paranto (53) dan Jamianto (50) sumringah mendengar gajinya mulai tahun ini akan dinaikkan menjadi Rp1,25 juta per bulan, plus mendapat sarapan pagi dan makan siang, karena memang itulah salah satu yang dia harapkan. Namun demikian, dia tetap berharap agar statusnya yang masih Tenaga Harian Lepas (THL) dan tidak jelas sampai kapan, agar segera diangkat menjadi PTT.
"Saya bersyukur jika ternyata tahun ini gaji para THL naik menjadi Rp1.250 ribu plus mendapat makan pagi dan siang. Tapi kita tetap berharap agar bisa diangkat menjadi PTT. Kalau sudah PTT, jadi status kita kan udah nggak ngambang lagi. Artnya kita punya pegangan. Terus terang mas, kerja kita ini beresiko dan memikul tanggungjawab yang besar, karena yang kita bawa adalah orang-orang penting. Tidak hanya keselamatan mereka saja, tapi juga kenyamanan mereka selama dalam perjalanan," kata Paranto.
Read More......

Selasa, 10 Februari 2009

Nasib Supir Bus Pemprov Kepri (1)


Bekerja 24 jam, Digaji Rp815 Ribu

Paranto (53) perlahan mengisap sebatang rokok yang terselip di tangan kananya kemarin. Pria berusia lebih setengah abad ini kesehariannya bertugas sebagai supir bus very important persons (VIP) dilingkup Pemerintah Provinsi Kepri. Bersamanya ada supir bus Pemprov lainnya, yakni Jamianto (50) dan Abdul Aziz (41).
Ketiga pria berpeampilan necis dengan safari biru dongker itu tampak serius membicarakan kesejahteraan mereka yang harus bekerja selama 24 jam. Ironisnya penghasilan mereka hanya Rp815 ribu per bulan, tanpa ada sampingan lainnya. Pernyataan ini begitu tulus meluncur dari bibir mereka. Apalagi, status mereka sampai sekarang masih Tenaga Harian Lepas (THL), yang sewaktu-waktu bisa saja tidak dibutuhkan lagi.
Paranto atau biasa disapa rekannya Pakde, mengaku sudah mengabdi menjadi sopir bus VIP sejak pertama kantor Pemprov Kepri pindah ke Tanjungpinang. Pertama kali menerima SK, statusnya adalah sebagai THL dengan upah Rp500 ribu per bulan. Begitu juga dengan gaji yang diterima Jamianto dan Abdul Aziz.Mereka baru menerima gaji Rp815 ribu per bulan sejak 2007 dan 2008. Dan meski gaji mereka naik, namun status mereka masih tetap sebagai THL. Dan tidak kunjung diangkatnya mereka, minimal menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT), adalah satu hal yang sangat mereka keluhkan.
"Sebagai pegawai lepas, kita sepertinya memang dilepas begitu saja. Kita kadang iri melihat orang-orang yang baru masuk langsung menjadi PTT dengan menerima gaji Rp1,5 juta. Resiko kita sbagai sopir ini besar. Yang kita bawa adalah orang-orang penting, seperi walikota, anggota DPRD, anggota DPR-RI, KASAD, KASAL,KASAU dan bahkan wakil Presiden Yusuf Kalla pernah kita bawa saat berkunjung kesini," Ujar Pakde diiyakan Jamianto dan Abdul Aziz.
Sejauh ini, mereka tidak pernah mengeluhkan kesejahteraan yag mereka terima setiap bulannya. Dengan memperlihatkan kinerja yang baik, Pakde dan kawan-kawan berharap akan mendapatkan penilaian yang objektif dan segera mendapatkan perhatian yang proporsional dari pimpinan. Sayangnya harapan mereka itu tak kunjung mendapat respon. Sehingga jalan terbaik, menurut mereka harus mengadu kepada Gubernur.
"Yang kita mau sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk. Kita hanya berharap status THL kita diangkat menjadi PTT, itu aja. Dengan demikian gaji yang kita terima tidak Rp815 ribu lagi, melainkan sama dengan yang diterima PTT lainnya. Kita ini ibaratnya bekerja 24 jam mas. Tidak ada waktu libur. Hari Raya sekalipun, kita jarang merayakannya dengan keluarga. Bagi kita, ini adalah tugas penting yang harus diselesaikan. Jadi, kita tidak perhitungan soal kerja," keluh Jamianto.
Suatu hari, cerita Jamianto, dia perah terpaksa menahan lapar hingga dua hari dua malam. Kejadian tersebut dialaminya tatkala Pemprov sedang menjamu kedatangan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono di Lagoi, kabupaten Bintan. Dari semenjak persiapan hingga hari H, Jamianto dan Pakde harus pulang-pergi Tanjungpinang-Lagoi sebanyak 4 kali setiap harinya, mengantar jemput panitia dan rombongan pejabat negara. Karena terlalu sibuk, mereka tidak sempat sarapan.
"Kita megang setir bus sampai gemeteran mas karena nahan lapar waktu itu. Cuman, kita tidak boleh memperlihatkan itu kepada tamu. Apalagi mereka orang-orang penting semua. Kita berfikir, ketika itu kita sedang membawa citra dan nama baik Pemprov Kepri, itu aja yang kita ingat, dan kita menahan lapar. Yang saya alami ini sama juga yang dialami Pak Paranto. Belum lagi ada tamu yag memaki-maki kita karena pekerjaan kita yang dinilai tidak becus, bahkan hingga mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak wajar diucapkan juga pernah kita terima. Yang jelas, tidak cuma sekali saat kita merasa lapar hari ini, besok baru bertemu nasi," cerita Jamianto.
Menurut Pakde, Jamianto dan Abdul Aziz. Ada sebanyak 9 orang sopir bus yang statusya masih THL di Pemprov Kepri. Semetara porsi kerja mereka lebih banyak dibanding PTT atau bahkan PNS sekalipun.
"Kita ini semua punya keluarga, punya kebutuhan yang tidak sedikit. Perhatian kami lebih terfokus untuk tamu yag kita bawa,ketimbang kepada keluarga sendiri. Hal ini sebenarya tidak perlu kami utarakan, karena bagian dari tugas kita. Tapi apa boleh buat, tujuan kita kan tidak untuk menyudutkan siapa-siapa, melainkan hanya mencurahkan keluh kesah kita aja. Cerita ini tidak kita buat-buat, semuanya kita alami sendiri" tutup Pakde.
Pakde yakin apa yang dia alami dan rekan-rekannya, juga dialami oleh para supir yang bekerja diinstansi pemerintah lainnya. Meski kemungkinan gaji supir di instansi pemerintah lain tidak sekecil yang mereka terima, ujar pakde, tetapi para supir tersebut masih dianggap sebagai pelengkap sehingga tidak perlu disamakan dengan pegawai lainya. Padahal tugas seorang supir tidak kalah penting, bahkan lebih berat ketimbang sejumlah pegawai lai.
Read More......

Kamis, 05 Februari 2009

Mata Hati..

Lihatlah Kehidupan dengan mata hati.
Karena mata hati lebih jelas melihat kehidupan.
Karena mata hati lebih jujur menilai hidup, dan
Karena mata hati lebih benar dari pada kebenaran, yang selalu dibohongi..

Mata hati melihat kebenaran yang dipaksakan.
Mata hati melihat keburukan yang disembunyikan.
Mata hati menyaksikan hukum yang dibeli.
Mata hati melihat cahaya dibalik gulita.

Kenapa harus menangis jika semestinya tertawa.
Kenapa harus tertawa jika terluka.
Rasa dan perasaan, rasakanlah dengan kejujuran.
Tutup penglihatanmu, agar terbuka mata hatimu.
Read More......

Jumat, 19 Desember 2008

Kintil..!?

Kintil adalah istilah bahasa Jawa. Istilah ini biasanya dibahasakan untuk seorang anak kecil yang sering mengkuti orangtuanya kemana saja dia pergi. Tidak mau tinggal dan maunya selalu dekat dengan orang tua alias jadi 'pengekor' orang tua.
Bagi seorang anak kecil yang masih balita, hal mengintil oragtua adalah lumrah dilakukan, karena memang belum bisa mandiri dan masih perlu bimbingan mengenal kehidupan di dunia.
Namun kalo yang selalu mengintil adalah seorang yag sudah dewasa bahkan seorang politisi dari sebuah partai besar, dan dia akan duduk disebuah jabatan penting di Parlemen. Dan karena nama besar orang tuanyalah figur ini selalu ikut kegiatan bapak atau ibunya yang terlebih dahulu menjadi pejabat hebat, dengan tujuan untuk memuluskan langkahnya merebut salah satu kursi parlemen itu, tentu menjadi lain ceritanya. Justru mendapat sorotan tajam dari kalangan masyarakat.

Figur yang seperti ini bisa dikatakan sebagai pendompleng, memanfaatkan posisi orang tua, atau dalam istilah baratnya 'numpang ciek'.

Figur yag seperti ini sama sekali tidak memiliki kepribadian. Bagi saya bahkan tidak layak menjadi pemimpin apalagi yang aka mewakili orang banyak sebuah daerah di Parlemen terhormat. Bagaimana mungkin pemimpin kok masih dipimpin. Lantas kebijakan apa yang akan dia usung untuk yang dia wakili kelak.

Mudah-mudahan hal seperti ini segera disadari, baik oleh si anak maupun orang tua. Agar masyarakat tidak mengartikannya terlalu jauh, berlebihan dan bahkan sampai menilai ada konspirasi keluarga untuk membuat sebuah kerajaan keluarga. Sehingga segala cara dilakukan, tanpa melihat kemampuan, keahlian dan sebagainya untuk mendudukkan sanak saudaraya diberbagai posisi penting.
Read More......

Jumat, 12 Desember 2008

40 Hari Tak Kembali, Kakek Gue Dikira Mati..

Kakek gue seorang pejuang. Gue gak pernah sekalipun bertemu dengannya, apalagi ngelihat wajahnya. Namun gue sering dapat cerita tetang dia dari nyokap. Namanya Karimun, dia adalah tentara pemberani dan punya prinsip 'Kalau berani ya berani sekali, dan jika takut, jangan sok berani'. Meski gak pernah bertemu, namun gue merasa bangga karena masih bisa mendapat cerita tentang dia.
Suatu saat kakek bersama pasukannya berada di sebuah camp tentara yang berada di perbatasan Jawa Timur. Di Camp tersebut mereka merencanakan strategi untuk menyerang pasukan Belanda yang ketika itu sedang merajalela di tanah Jawa. Mereka merencanakan serangan di pagi buta, saat pasukan Belanda sedang tidur lelap dan lengah. Setelah rencana tersusun matang, kakek dan pasukan tidak tidur. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk kemudian bergerak melakukan serangan.
Namun menjelang setengah jam akan melakukan serangan ke markas Belanda, justru pasukan Belanda telah melakukan serangan terlebih dahulu mengguakan pesawat tempur. Kakek dan pasukannya kocar-kacir dibuatnya karena dihujani peluru dan dijatuhi bom dari pesawat. Teman-temannya banyak yang mati hancur berkeping-keping. Camp yang mereka buat menjadi lautan darah seketika.
Beruntung kakek cepat-cepat loncat ke sungai. Entah dengan pertolongan apa, dia bisa bertahan dalam air begitu lama. Dia menyelam hingga jauh sekali. Selama menyelam dia masih bisa melihat kilatan-kilatan bom yang menghunjam ke camp-nya. Kakek kemudian keluar dari dalam air manakala dirasakan sudah jauh dari pusat camp dan aman dari serangan pasukan udara Belanda.
Kakek gue baru sadar, rupanya ada mata-mata Belanda yang menyusup didalam pasukannya dan membocorkan semua strategi yang sudah direncanakan. Nasi sudah menjadi bubur, Kakek kemudian nggak pernah tau apakah masih ada pasukannya yang selamat dari serangan itu. Kalaupun ada, tentu mereka juga mengnggap kakek juga sudah mati berkeping-keping terkena bom Belanda yang dahsyat itu.
Waktu terus berjalan, ditengah kesengsaraannya dalam pelarian. Istrinya, Marsatun, nenek gue, sangat menantikan dia kepulangannya. Lebih sebulan kakek nggak ngasih kabar kepada keluarga setelah tersebarnya serangan pasukan Belanda di camp itu. Nenek pun pasrah, tapi dia terus menanti suaminya kembali, walaupu dalam sudah berbentuk mayat sekalipun. Syukur-sykur masih hidup.
Genap 40 puluh hari kakek tak juga pulang. Nenek dan keluarganya yang lain semakin pasrah. Mereka semua yakin, kakek gue sudah meninggal saat serangan itu. Acara 40 hari kepergian kakek pun digelar. Tetangga saling berdatangan dengan membawa kue 'apem' untuk memberikan doa bagi seseorang yang sudah meninggal dunia. Nenek terus menangis, namun tetap pasrah. Karena memang itulah resiko memiliki seorang suami tentara zaman perang ketika itu.
Acara sederhana namun banyak sekali tetanga yang hadir dan memberikan support kepada nenek dan keluarga ketika itu. Rumah nenek yag sempit sampai tidak bisa menampung tetangga. Akhirnya sebagian duduk di teras rumah.
Tanpa diketahui oleh keluarga dan tetamu yang hadir untuk memperingati 40 hari kepergian kakek. Rupanya tepat saat itu juga kakek gue pulang ke rumah. Dia terlihat kurus karena tidak mendapat asupan makanan yang layak selama dalam pelarian. Pakaiannya compang-camping dan dekil. Kakek melihat ada keramaian di rumahnya, namun masih belum tahu acara apa gerangan. Tidak mau menggangu acara, kakek menunggu di kegelapan sambil higga acara selesai. Namun dia tersentak manakala mendengar namanya dikirimi doa, karena telah meninggal dunia dan memasuki hari yang ke-40.
Mendengar doa itu dikirimkan untuk namanya, kakek seketika langsung keluar dan berdiri didepan pintu dengan wajah kurus, pucat dan pakaian compang-camping. Orang yang hadir dalam acara itu tidak percaya, tidak sedikit yang mengira itu bukan kakek gue Karimun, melainkan makhluk halus yang menjelma menyerupai dia.
Tetamu yang hadir dan asik bersantai sambil meikmati kue apem di teras rumah, seketika lari berhamburan karena ketakutan. Si pembaca do'a menguatkan doanya dengan harapan 'setan' yang mejelma di depan pintu itu segera pergi dan takut mendengar doa-doa di baca. Kakek masih belum bereaksi, dia sendiri tidak percaya jika orang-orang telah menganggapnya mati.
Dipandanginya orang-orang diseisi rumahnya dengan seksama. Dimulai dari istrinya yang menangis sambil membaca doa, begitujuga keluarga dekat lainnya.
"Ini aku, Karimun. Aku masih hidup. Jangan pada takut, ini aku Karimun, Karimun!!," kakek mengulang berkali-kali menyebut namanya. memastikan orang-orang agar percaya bahwa dia masih hidup.
Kakek gue akhirnya bercerita bagaimana dia bisa selamat dari serangan itu. Dan bagaimana dia mempertahankan diri selama dalam pelarian. Semua tamu kemudian percaya dan nenek gue adalah orang yang paling beruntung dan merasa bahagia atas kepulangan suaminya yang pernah dia anggap sudah meninggal itu. I miss U kakek....Semoga segala amalmu dan keberanianmu membela agama dan neara diterima di sisi Allah SWT..Amiin..!! kakek tetap pahlawan bagi gue..
Read More......

Senin, 01 Desember 2008

Dalam Waktu 24 Jam...

Sobat-sobit ku sekalian, baik yang merasa pendek, tinggi, item, putih, bulat, kotak, lonjong, gemuk, kurus, pinter, penyakitan dan yang begok sekalipun. Mari kita akhiri tahun 2008 ini dengan melakukan instropeksi dengan dimulai dari awal bulan Desember ini.
Saya, kamu, dia dan kita semua setiap hari telah melakukan rutinitas dalam jangka waktu yang sama. Tidak ada yang lebih lama, dan tidak ada yang lebih sebentar, yakni hanya dalam kurun waktu 24 jam. Bagi kalian yang sadar, jangan segan-segan untuk melakukan anggukan tanda benar yang saya katakan.
Terserah bagaimana anda menilai sepanjang 24 jam itu. Apakah tergolong waktu yang singkat atau proporsional. Bagi saya pribadi, waktu itu adalah waktu yang dipaksakan untuk kita semua agar berbuat maksimal, karena kita tidak punya pilihan lain. Intinya, kita sanggup menghadapinya atau tidak. Atau kita akan kocar-kacir kejar-kejaran dengan waktu sepanjang masa. Dan siap ataupun tidak, selama nafas kita masih berhembus wajib menghadapinya. Perputaran waktu tidak pernah lebih cepat dan tidak pernah melambat. Namun rutinitas kita yang semakin padat telah membuatnya menjadi teramat singkat.
Mengatur waktu adalah langkah tepat dari pada diatur waktu. Dan semua orang sukses rata-rata karena berhasil mengatur waktu.
Mereka yang sukses juga tidak pernah diberi waktu yang lebih, tetap hanya 24 jam. Sementara mereka yang gagal juga demikian. Sukses atau tidak, bisa dilihat bagaimana seseorang berhasil mengatur waktu 24 jam itu.
Dalam Waktu 24 jam, ternyata seseorang bisa mengatur Kabupaten, bisa mengatur sebuah Provinsi, bisa mengatrur Negara dan bahkan bisa mengatur dunia. Tapi tidk sedikit juga, orang yang susah mengatur dirinya sendiri dalam 24 jam itu. Jangan mengeluh karena hanya diberi waktu 24 jam, karena mengeluh itu tanda tidak sanggup menghadapinya.
Mari Merenung:
1. Apa yang akan saya lakukan dalam tempo 24 jam besok, besok dan besok?
2. Program terbesar apa yang akan saya fokuskan dalam 24 jam besok?
3. Bagaimana saya mengatur waktu 24 jam itu?
4. Mengapa waktu 24 jam saya selama ini tersia-siakan?
5. Baik atau burukkah saya melakukan 'ini' atau 'itu' di 24 jam besok?
6. Mengtapa saya selalu diatur oleh waktu 24 jam itu?..
7. Terpaksa atau wajarkan saya harus meghadapi 24 jam itu?....
Read More......

Jumat, 28 November 2008

Aku Cinta Tanjungpinang

Assalamualaikum teman-teman semua. Ada gagasan yang harus saya goreskan di dalam blog pribadi saya pada kesempatan kali ini, sebelum dianya tumpah dari kepala saya karena sebetar lagi luber dipenuhi dengan gagasan-gaagsan yang lain.

Aku Cinta Tanjungpinang', nilah judul esay kali ini , dan Saya rasa memang dimikian adanya. Saya sudah sejak 1985 di Kota yang 'penuh misteri' ini. Waktu itu saya hijrah dari tanah kelahiran saya di Lampung, dan saya baru menginjak usia 6 tahun saat itu. Saya katakan misteri karena kota ini memang membingungkan sekaligus memberi kesan tersendiri bagi saya.

Kemajemukan suku bangsa bercampur baur didalam kota kecil yang dijuluki Kota Gurindam, Negeri Pantun ini. Melayu, Jawa, Bugis, Batak, Padang, Flores, Chines, Ambon, Aceh dan sebagainya semuaya tunduk dan melebur dalam payung Budaya Melayu yang Religius, damai, mengayomi. Kala itu Tanjungpinang masih menjadi Kota admiistratifya Kabupaten Kepulaua Riau.

Sungguh memabukkan tinggal di kota ini. Bukan tempat transaksi mariyuwana sehingga saya katakan kota yang indah ini memabukkan. Bukan pula tempat memproduksi anggur terbesar di dunia, atau pusat kebun ganja dan pabrik ekstasi, bukan. Tapi Kota ini begitu memabukkan dengan nilai-nilia eksotismenya yang cukup dinamis, romantis da religius.

Ops! nanti dulu. Teman-teman jangan salah tafsir atas tulisan ini . Saya tidak berniat utuk memuji siapapun yang pernah memimpin atu siapapun yang sedang memimpin negeri ini. Demi Tanjungpinang yang saya cintai, tulisan ini tidak untuk memuji seseorang , atau siapapun yang sedang menampuk kekuasaan atas kota yang sarat dengan nilai-nilai sejarah ini. Serta tidak juga untuk mendeskriditkan seseorang. Dari lubuk hati yang terdalam 'Saya Cinta Tanjungpinang' karena kota ini yang telah mengasah otak saya menuju kedewasaan.

Tanjungpinang adalah milik semua orang yang ada didalamnya. Tidak ada yang merasa paling berhak untuk memilikinya, dan tidak ada pula yang merasa paling berkuasa atasnya. Semua memiliki hak yang sama atas Tanjungpinang, semua memiliki kesempatan sama untuk hidup layak di Kota Tajungpinang. Semua memiliki hak untuk mencintainya dan memusuhi siapapun yang ingin mengobr-akabrik kedamaian yang bersemayam didalamnya.


'Aku Cintau Kau'

Tanjungpinang..
Hingga senja sebegini usiamu..
Masih saja 'tak ade' jawaban tujuan dari bibirmu..
Kian waktu persoalan rumit semaki menghimpit..
Masih juga kau jawab 'tak payah'..
Kerusuhan terjadi dimana-mana..
kau pun hanya menjawab 'biar aje lah'..

Tanjungpinang
Ketika aku Bilang 'Aku Cinta Kau'..
Saat itulah kau baru tersenyum dan sedikit melirik dari tundukmu..
Kemudian kau pun berbalik dan berlari..
Setengah berteriak kuulangi ucapanku "Aku Cinta Kau'..
Kemudian kau berhenti namun masih membelakangi..
Terakhir kuucapkan lagi dengan lirih dari dasar hati 'Aku Cinta Kau'..
Kemudian cairan bening mengalir di pipimu,
Turun ikut kontur pori-porimu yang meregang..

Tanjungpinang..
Kenapa takut kau mebalas Cintaku..bisikku
Melayuku memang tak fasih, tapi niatku tulus untukmu...
Tak 'Said' diawal namaku, tak 'syarifah' dan tak pula 'Wan'..
Namun aku tetap inginkan kau jadi tujuanku..
Jika kau tidak menerimaku, dimana akan kulabuhkan hatiku..
Aku sungguh Cinta Kau Tanjuungpinang...
Sungguh..!
Read More......

Selasa, 25 November 2008

Pengemis Jalanan

Diacuhkannya emosi sang Surya,
yang menampar dan mencambuk dengan bengis..
Dielusnya semangat dengan butiran-butiran keringat,
sambil membisikkan harapan kepada diri sendiri..
Disapanya dengan tulus jabatan aspal yang membara,
yang setia membakar asa di kaki telanjangnya..

Adalah tontonan terindah melihat belatung-belatung menari erotis..
Lalat-lalat besenandung dengan komposisi tidak lagi Do, Re ataupun Mi..
Tidak dinikmati dari bar ke bar atau cafe ke cafe..
Tapi dari tempat pembuangan sampah yang satu ke yang lain..


Sekarung harapan menggembol dipunggung Pengemis Jalanan...
Dikumpulkannya sisa-sisa masa depan orang lain untuk keluarga..
Untuk sekolah anak, untuk asap dapur agar tetap mengepul
dan untuk menyogok kehidupan..

Dekil, kusam, lusuh, kumuh dan bau tubunyah..
Sunggingan senyum tetap terlontar walau tidak ada yang membalas..
'Setidaknya aku senyum untuk dunia ini' ujarnya..
Read More......