Berita, Berita, Berita
Semua orang butuh berita
Berita baik, berita buruk dan berita apa saja
Semua media berlomba-lomba dengan berbagai cara
Untuk mendapat berita yang berbeda dan luar biasa
Berita, Berita, Berita
Dunia dirangkum dalam berita
Berita tentang derita atau tentang suka ria,
Tentang sebuah pesta, atau kampung yang porak poranda
Wartawan-wartawan berkeliaran
Kilatan blitz saling bersambaran
Siang, malam, panas, maupun hujan
Kamera lebih berharga dibanding kesehatan badan
Telepon berdering, berita murahan tersebar
Seorang maling jemuran hangus dibakar
Wartawan setengah enggan memuatnya di surat kabar
Karena yang ditunggu hasil vonis koruptor besar
Berita, Berita, Berita
Para pembaca mulai hilang simpati
Wartawan-wartawan sudah onani sendiri-sendiri
Nilai berita tak lagi sedahsyat cemeti
Suara masyarakat jadi terkebiri
Berita, Berita, Berita
Menulis berita dengan hati
Mengungkap hati jadi berita
Menyibak tabir dengan nurani
Menjaga nurani untuk sebuah makna
Makna untuk sebuah berita
Berita, Berita, Berita
Read More......
Jumat, 24 April 2009
Rabu, 25 Maret 2009
Berubah??
Waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Berat badan semakin hari semakin montok. Hampir setap timbangan menghina saat digunakan. Pertanyaan demi pertanyaan pun ditujukan kepada diri sendiri. Apakah ini semua faktor waktu yang terus berubah, atau karena usia yang bertambah. Hati kecil menjawab, ini semua tidak ada kaitanya dengan waktu atau usia. Tapi karena kontrol makanan yang masuk kedalam tubuh kurang diperhatikan. Sehingga tidak hanya berat badan yang tak terjaga, tapi kesehatan pun menjadi terganggu.
Stelan kemeja kebanggaan dan celama jeans merk luar negeri semkain hari kian tak bersahabat. Saat akan dikenakan selalu menolak karena malu kepada majikan yang jadi gembrot. Stelan-stelan cantik itu memilih tetap berada didalam lemari, tidak mau keluar untuk acara pesta.
"Sungguh aku sudah tak mampu lagi melayani majikanku untuk tetap tampil menawan," kata kemeja-kemeja kesayangan.
Suatu saat, sebuah kemeja cantik dipaksa oleh sang majikan utuk menemaninya disebuah acara pesta. Barang mahal yang diimpor dari luar negeri itu menyembul kekanan dan kekiri dibagian pinggang, karena lemak yang menyundul-nyundul dari bagian tubuh yang membengkak karena kebanyakan kolesterol. Kemeja cantik itu jadi tidak bernilai dibuatnya, meski harganya mahal.
Dalam hal apa saja. Jangan pernah berharap yang lainnya disekitar kita berubah hanya untuk menyesuaikan diri dengan kita. Tapi perubahan itu harus dari kita. Kitalah yang menentukan sebuah barang itu menjadi mahal atau tidak berharga sama sekali.
Read More......
Stelan kemeja kebanggaan dan celama jeans merk luar negeri semkain hari kian tak bersahabat. Saat akan dikenakan selalu menolak karena malu kepada majikan yang jadi gembrot. Stelan-stelan cantik itu memilih tetap berada didalam lemari, tidak mau keluar untuk acara pesta.
"Sungguh aku sudah tak mampu lagi melayani majikanku untuk tetap tampil menawan," kata kemeja-kemeja kesayangan.
Suatu saat, sebuah kemeja cantik dipaksa oleh sang majikan utuk menemaninya disebuah acara pesta. Barang mahal yang diimpor dari luar negeri itu menyembul kekanan dan kekiri dibagian pinggang, karena lemak yang menyundul-nyundul dari bagian tubuh yang membengkak karena kebanyakan kolesterol. Kemeja cantik itu jadi tidak bernilai dibuatnya, meski harganya mahal.
Dalam hal apa saja. Jangan pernah berharap yang lainnya disekitar kita berubah hanya untuk menyesuaikan diri dengan kita. Tapi perubahan itu harus dari kita. Kitalah yang menentukan sebuah barang itu menjadi mahal atau tidak berharga sama sekali.
Read More......
Jumat, 13 Februari 2009
Menembus Ruang dan Waktu
Tempat ini tak asing bagiku. Gemericik air tak henti-hentinya mengalir. Senandung kicau burug saling bersahut terus-menerus. Kurasakan hembusan udara yang belum tercemar volusi dan rimbunan pohon kopi yang menghalangiku dari serangan sinar matahari. Aku pernah berada disini. Bau jejakku jelas masih tercium. Tapi aku tidak merasakan berdiri lebih tegap dibanding hari ini sebelumnya.
Tubuh kecilku 25 tahun lalu, aku melihatnya berlari-lari ditengah kebun kopi seluas 6 hektare sambil menunggu ibu dan bapak yang sedang panen. Berkejaran dengan anak macan, pontang-panting ketika diserang sekelompok lebah, hingga berpetualang disebuah goa kecil yang terpencil. Semua kulakukan dikebun kopi ini.
Setiap sudut kebun nyaris tak ada yang berubah. Tetap teduh, produktif dan membangkitkan aku dari tidur panjang. Namun aku tak melihat lebah-lebah itu lagi kini, anak-anak macan dan sahabat alamku yang sangat membenci ulahku, dan kini aku justru kembali merindukannya.
Aku berpaling ke sudut lain kebun. Aku tersontak dan tertawa. Ternyata aku melihat tubuhku yang kecil tak mampu mengangkat beban satu kaleng kopi basah hasil panen bapak dan ibu. Ambisiku cukup besar untuk mengangkatnya, namun tenagaku tak sebanding dengan beban itu.
Dengan ambisi yang besar, badan kecilku juga pernah terbawa pengait batang kopi yang biasa digunakan bapak untuk panen. Aku tak menangis, justru aku tertawa, bersuka ria karena bisa bercanda dengan alam. Bapak dan ibuku juga menertawaiku, begitu juga kakak dan adik-adik. Sejak saat itu aku semakin akrab dengan kopi-kopi disini.
Kini, setelah 25 tahun aku pergi. Hari ini aku kembali ditengah-tengah kebun ini. Aku disambut begitu mesra oleh setiap pohon yang mengelilingiku. Beberapa pohon yang baru ditanam bertanya-tanya, siapa sebenarnya aku. Namun yang lainya tidak akan pernah melupakan tingkah-polah kecilku dulu. Lugu, sembrono, alami namun disenangi alam.
Angin sepoi-sepoi menyambut kehadiranku dengan belaiannya. Aku bentangkan tanganku, kudongakkan wajah dan kubiarkan alam sahabatku menjamahku. Rinduku semakin dalam hingga membuat air mataku mengalir pelan megikuti kontur por-pori. Sorak sorai pohon-pohon kopi membuat aku semakin terharu. Semuanya berbaris rapi dan bersahabat.
Kebun ini meyimpan berjuta nostalgia. Tempat ini telah mengajarkan aku arti hidup yang sesungguhnya.
Read More......
Tubuh kecilku 25 tahun lalu, aku melihatnya berlari-lari ditengah kebun kopi seluas 6 hektare sambil menunggu ibu dan bapak yang sedang panen. Berkejaran dengan anak macan, pontang-panting ketika diserang sekelompok lebah, hingga berpetualang disebuah goa kecil yang terpencil. Semua kulakukan dikebun kopi ini.
Setiap sudut kebun nyaris tak ada yang berubah. Tetap teduh, produktif dan membangkitkan aku dari tidur panjang. Namun aku tak melihat lebah-lebah itu lagi kini, anak-anak macan dan sahabat alamku yang sangat membenci ulahku, dan kini aku justru kembali merindukannya.
Aku berpaling ke sudut lain kebun. Aku tersontak dan tertawa. Ternyata aku melihat tubuhku yang kecil tak mampu mengangkat beban satu kaleng kopi basah hasil panen bapak dan ibu. Ambisiku cukup besar untuk mengangkatnya, namun tenagaku tak sebanding dengan beban itu.
Dengan ambisi yang besar, badan kecilku juga pernah terbawa pengait batang kopi yang biasa digunakan bapak untuk panen. Aku tak menangis, justru aku tertawa, bersuka ria karena bisa bercanda dengan alam. Bapak dan ibuku juga menertawaiku, begitu juga kakak dan adik-adik. Sejak saat itu aku semakin akrab dengan kopi-kopi disini.
Kini, setelah 25 tahun aku pergi. Hari ini aku kembali ditengah-tengah kebun ini. Aku disambut begitu mesra oleh setiap pohon yang mengelilingiku. Beberapa pohon yang baru ditanam bertanya-tanya, siapa sebenarnya aku. Namun yang lainya tidak akan pernah melupakan tingkah-polah kecilku dulu. Lugu, sembrono, alami namun disenangi alam.
Angin sepoi-sepoi menyambut kehadiranku dengan belaiannya. Aku bentangkan tanganku, kudongakkan wajah dan kubiarkan alam sahabatku menjamahku. Rinduku semakin dalam hingga membuat air mataku mengalir pelan megikuti kontur por-pori. Sorak sorai pohon-pohon kopi membuat aku semakin terharu. Semuanya berbaris rapi dan bersahabat.
Kebun ini meyimpan berjuta nostalgia. Tempat ini telah mengajarkan aku arti hidup yang sesungguhnya.
Read More......
Rabu, 11 Februari 2009
Nasib Supir Bus Pemprov Kepri (2-habis)

Gaji THL Dinaikkan Menjadi Rp1,25 juta
Keluh-kesah Paranto (53) dan parasupr bus very important person (VIP) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri yang diberitakan di Sijori mandiri edisi, Selasa (10/2), membuat para pejabat Pempov Kepri, takterkecuali Gubernur Kepri Ismeth Abdullah seperti terbangun dari mimpi panjang. Mereka terkejut dan baru sadar jika supir yang kerap mereka suruh, bahkan mungkun menyupirinya itu ternyata memperoleh gaji yang kurang layak.
Salah satu pejabat yang mengaku terkejut dan tidak tahu para supir Pemprov Kepri digaji rendah adalah Kepala Biro Umum Irmansyah. Pria yang baru sekitar satu bulan menjabat Kepala Biro Umum Kepri itu bahkan mengaku sempat ditegur Gubernur Ismeth Abdullah soal rendahnya kesejahteraan para spir dilingkup Pemprov Kepri.
Ismeth langsung memerintahkan Irmansyah agar memerhatikan nasib para supir tersebut dengan menakkangaji dan memberikan tunjangan lainnya. "Karena berita itu, beliau tadi menegur saya dan meminta agar memerhatikan nasib para supir. Itu suatu bentukkepedulian Gubernur kepadapegawainya, beliau kan tidak tahu sampai masalah gaji seperti itu," ujar Irmansyah saat dijumpai diruag kerjanya.
Sesuai perintah Gubernur, Irmansyah langsung menaikkan gaji para supir bus milik pemprov Kepri secara drastis, dari Rp815 ribu per bulan menjadi Rp1,25 juta per bulan. Gaji baru tersebut berlaku mulai bulan ini. Selain kenaikan gaji, para supir juga akan mendapat makan pagi dan makan siang, sama dengan pegawai lainya.
"Mulai bulan ini gaji PHL naik menjadi Rp1.250 ribu per bulan. Mereka juga akan mendapat sarapan pagi dan makan siang. Sama dengan pegawai lain di Biro Umum. Sebelumnya, gaji PHL memang Rp815 ribu dan ditambah sekali sarapan pagi saja." ujar mantan kepala Biro Humas dan Protokol itu.
Menurut Irmansyah, gaji para THL, sesuai Peraruran Menteri Dalam Negeri (Permendagri) disesuaikan dengan Upah Minimum Kota (UMK) dimasing-masing daerah. Dan Rp815 ribu sebelunya adalah sudah sesuai dengan UMK Tanjungpinang. Namun, Pemprov Kepri juga tetap memperhatikan nasib supir dari sisi lainya, termasuk kesejahteraan. Disamping itu, para supir juga mendapatkan pakaian dinas dalam bekerja, serta bantuan untuk setiap hari-har besar, seperti lebaran dan puasa.
Irmansyah mengakui kerja supir memang berat, terutama jika sedang padat kegiatan. Namun menurutnya tidak setiap hari dalam sebulan selama 24 jam para supir bekerja.
"Mereka tidak kerja tidak 24 jam. Namun kapan saja mereka dibutuhkan memang harus siap. Temporer lah, kalau lagi sepi, mereka banyak nganggur. Tapi kalau lagi padat, mereka memang harus kerja ekstra," kata Irmansyah.
Meski telah memutuskan bahwa gaji THL dinaikkan menjadi Rp1.250 ribu per bulan. Namun Irmansyah belum mengetahui bisa atau tidak para supir bus VIP tersebut diangkat menjadi PTT. Karena, menurutnya pengangkatan PTT sangat tergantung dengan formasi, kebutuhan dan ketersediaan anggaran di Pemprov.
Sementara itu, Paranto (53) dan Jamianto (50) sumringah mendengar gajinya mulai tahun ini akan dinaikkan menjadi Rp1,25 juta per bulan, plus mendapat sarapan pagi dan makan siang, karena memang itulah salah satu yang dia harapkan. Namun demikian, dia tetap berharap agar statusnya yang masih Tenaga Harian Lepas (THL) dan tidak jelas sampai kapan, agar segera diangkat menjadi PTT.
"Saya bersyukur jika ternyata tahun ini gaji para THL naik menjadi Rp1.250 ribu plus mendapat makan pagi dan siang. Tapi kita tetap berharap agar bisa diangkat menjadi PTT. Kalau sudah PTT, jadi status kita kan udah nggak ngambang lagi. Artnya kita punya pegangan. Terus terang mas, kerja kita ini beresiko dan memikul tanggungjawab yang besar, karena yang kita bawa adalah orang-orang penting. Tidak hanya keselamatan mereka saja, tapi juga kenyamanan mereka selama dalam perjalanan," kata Paranto.
Read More......
Selasa, 10 Februari 2009
Nasib Supir Bus Pemprov Kepri (1)

Bekerja 24 jam, Digaji Rp815 Ribu
Paranto (53) perlahan mengisap sebatang rokok yang terselip di tangan kananya kemarin. Pria berusia lebih setengah abad ini kesehariannya bertugas sebagai supir bus very important persons (VIP) dilingkup Pemerintah Provinsi Kepri. Bersamanya ada supir bus Pemprov lainnya, yakni Jamianto (50) dan Abdul Aziz (41).
Ketiga pria berpeampilan necis dengan safari biru dongker itu tampak serius membicarakan kesejahteraan mereka yang harus bekerja selama 24 jam. Ironisnya penghasilan mereka hanya Rp815 ribu per bulan, tanpa ada sampingan lainnya. Pernyataan ini begitu tulus meluncur dari bibir mereka. Apalagi, status mereka sampai sekarang masih Tenaga Harian Lepas (THL), yang sewaktu-waktu bisa saja tidak dibutuhkan lagi.
Paranto atau biasa disapa rekannya Pakde, mengaku sudah mengabdi menjadi sopir bus VIP sejak pertama kantor Pemprov Kepri pindah ke Tanjungpinang. Pertama kali menerima SK, statusnya adalah sebagai THL dengan upah Rp500 ribu per bulan. Begitu juga dengan gaji yang diterima Jamianto dan Abdul Aziz.Mereka baru menerima gaji Rp815 ribu per bulan sejak 2007 dan 2008. Dan meski gaji mereka naik, namun status mereka masih tetap sebagai THL. Dan tidak kunjung diangkatnya mereka, minimal menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT), adalah satu hal yang sangat mereka keluhkan.
"Sebagai pegawai lepas, kita sepertinya memang dilepas begitu saja. Kita kadang iri melihat orang-orang yang baru masuk langsung menjadi PTT dengan menerima gaji Rp1,5 juta. Resiko kita sbagai sopir ini besar. Yang kita bawa adalah orang-orang penting, seperi walikota, anggota DPRD, anggota DPR-RI, KASAD, KASAL,KASAU dan bahkan wakil Presiden Yusuf Kalla pernah kita bawa saat berkunjung kesini," Ujar Pakde diiyakan Jamianto dan Abdul Aziz.
Sejauh ini, mereka tidak pernah mengeluhkan kesejahteraan yag mereka terima setiap bulannya. Dengan memperlihatkan kinerja yang baik, Pakde dan kawan-kawan berharap akan mendapatkan penilaian yang objektif dan segera mendapatkan perhatian yang proporsional dari pimpinan. Sayangnya harapan mereka itu tak kunjung mendapat respon. Sehingga jalan terbaik, menurut mereka harus mengadu kepada Gubernur.
"Yang kita mau sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk. Kita hanya berharap status THL kita diangkat menjadi PTT, itu aja. Dengan demikian gaji yang kita terima tidak Rp815 ribu lagi, melainkan sama dengan yang diterima PTT lainnya. Kita ini ibaratnya bekerja 24 jam mas. Tidak ada waktu libur. Hari Raya sekalipun, kita jarang merayakannya dengan keluarga. Bagi kita, ini adalah tugas penting yang harus diselesaikan. Jadi, kita tidak perhitungan soal kerja," keluh Jamianto.
Suatu hari, cerita Jamianto, dia perah terpaksa menahan lapar hingga dua hari dua malam. Kejadian tersebut dialaminya tatkala Pemprov sedang menjamu kedatangan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono di Lagoi, kabupaten Bintan. Dari semenjak persiapan hingga hari H, Jamianto dan Pakde harus pulang-pergi Tanjungpinang-Lagoi sebanyak 4 kali setiap harinya, mengantar jemput panitia dan rombongan pejabat negara. Karena terlalu sibuk, mereka tidak sempat sarapan.
"Kita megang setir bus sampai gemeteran mas karena nahan lapar waktu itu. Cuman, kita tidak boleh memperlihatkan itu kepada tamu. Apalagi mereka orang-orang penting semua. Kita berfikir, ketika itu kita sedang membawa citra dan nama baik Pemprov Kepri, itu aja yang kita ingat, dan kita menahan lapar. Yang saya alami ini sama juga yang dialami Pak Paranto. Belum lagi ada tamu yag memaki-maki kita karena pekerjaan kita yang dinilai tidak becus, bahkan hingga mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak wajar diucapkan juga pernah kita terima. Yang jelas, tidak cuma sekali saat kita merasa lapar hari ini, besok baru bertemu nasi," cerita Jamianto.
Menurut Pakde, Jamianto dan Abdul Aziz. Ada sebanyak 9 orang sopir bus yang statusya masih THL di Pemprov Kepri. Semetara porsi kerja mereka lebih banyak dibanding PTT atau bahkan PNS sekalipun.
"Kita ini semua punya keluarga, punya kebutuhan yang tidak sedikit. Perhatian kami lebih terfokus untuk tamu yag kita bawa,ketimbang kepada keluarga sendiri. Hal ini sebenarya tidak perlu kami utarakan, karena bagian dari tugas kita. Tapi apa boleh buat, tujuan kita kan tidak untuk menyudutkan siapa-siapa, melainkan hanya mencurahkan keluh kesah kita aja. Cerita ini tidak kita buat-buat, semuanya kita alami sendiri" tutup Pakde.
Pakde yakin apa yang dia alami dan rekan-rekannya, juga dialami oleh para supir yang bekerja diinstansi pemerintah lainnya. Meski kemungkinan gaji supir di instansi pemerintah lain tidak sekecil yang mereka terima, ujar pakde, tetapi para supir tersebut masih dianggap sebagai pelengkap sehingga tidak perlu disamakan dengan pegawai lainya. Padahal tugas seorang supir tidak kalah penting, bahkan lebih berat ketimbang sejumlah pegawai lai.
Read More......
Kamis, 05 Februari 2009
Mata Hati..
Lihatlah Kehidupan dengan mata hati.
Karena mata hati lebih jelas melihat kehidupan.
Karena mata hati lebih jujur menilai hidup, dan
Karena mata hati lebih benar dari pada kebenaran, yang selalu dibohongi..
Mata hati melihat kebenaran yang dipaksakan.
Mata hati melihat keburukan yang disembunyikan.
Mata hati menyaksikan hukum yang dibeli.
Mata hati melihat cahaya dibalik gulita.
Kenapa harus menangis jika semestinya tertawa.
Kenapa harus tertawa jika terluka.
Rasa dan perasaan, rasakanlah dengan kejujuran.
Tutup penglihatanmu, agar terbuka mata hatimu.
Read More......
Karena mata hati lebih jelas melihat kehidupan.
Karena mata hati lebih jujur menilai hidup, dan
Karena mata hati lebih benar dari pada kebenaran, yang selalu dibohongi..
Mata hati melihat kebenaran yang dipaksakan.
Mata hati melihat keburukan yang disembunyikan.
Mata hati menyaksikan hukum yang dibeli.
Mata hati melihat cahaya dibalik gulita.
Kenapa harus menangis jika semestinya tertawa.
Kenapa harus tertawa jika terluka.
Rasa dan perasaan, rasakanlah dengan kejujuran.
Tutup penglihatanmu, agar terbuka mata hatimu.
Read More......
Jumat, 19 Desember 2008
Kintil..!?
Kintil adalah istilah bahasa Jawa. Istilah ini biasanya dibahasakan untuk seorang anak kecil yang sering mengkuti orangtuanya kemana saja dia pergi. Tidak mau tinggal dan maunya selalu dekat dengan orang tua alias jadi 'pengekor' orang tua.
Bagi seorang anak kecil yang masih balita, hal mengintil oragtua adalah lumrah dilakukan, karena memang belum bisa mandiri dan masih perlu bimbingan mengenal kehidupan di dunia.
Namun kalo yang selalu mengintil adalah seorang yag sudah dewasa bahkan seorang politisi dari sebuah partai besar, dan dia akan duduk disebuah jabatan penting di Parlemen. Dan karena nama besar orang tuanyalah figur ini selalu ikut kegiatan bapak atau ibunya yang terlebih dahulu menjadi pejabat hebat, dengan tujuan untuk memuluskan langkahnya merebut salah satu kursi parlemen itu, tentu menjadi lain ceritanya. Justru mendapat sorotan tajam dari kalangan masyarakat.
Namun kalo yang selalu mengintil adalah seorang yag sudah dewasa bahkan seorang politisi dari sebuah partai besar, dan dia akan duduk disebuah jabatan penting di Parlemen. Dan karena nama besar orang tuanyalah figur ini selalu ikut kegiatan bapak atau ibunya yang terlebih dahulu menjadi pejabat hebat, dengan tujuan untuk memuluskan langkahnya merebut salah satu kursi parlemen itu, tentu menjadi lain ceritanya. Justru mendapat sorotan tajam dari kalangan masyarakat.
Figur yang seperti ini bisa dikatakan sebagai pendompleng, memanfaatkan posisi orang tua, atau dalam istilah baratnya 'numpang ciek'.
Figur yag seperti ini sama sekali tidak memiliki kepribadian. Bagi saya bahkan tidak layak menjadi pemimpin apalagi yang aka mewakili orang banyak sebuah daerah di Parlemen terhormat. Bagaimana mungkin pemimpin kok masih dipimpin. Lantas kebijakan apa yang akan dia usung untuk yang dia wakili kelak.
Mudah-mudahan hal seperti ini segera disadari, baik oleh si anak maupun orang tua. Agar masyarakat tidak mengartikannya terlalu jauh, berlebihan dan bahkan sampai menilai ada konspirasi keluarga untuk membuat sebuah kerajaan keluarga. Sehingga segala cara dilakukan, tanpa melihat kemampuan, keahlian dan sebagainya untuk mendudukkan sanak saudaraya diberbagai posisi penting.
Jumat, 12 Desember 2008
40 Hari Tak Kembali, Kakek Gue Dikira Mati..
Kakek gue seorang pejuang. Gue gak pernah sekalipun bertemu dengannya, apalagi ngelihat wajahnya. Namun gue sering dapat cerita tetang dia dari nyokap. Namanya Karimun, dia adalah tentara pemberani dan punya prinsip 'Kalau berani ya berani sekali, dan jika takut, jangan sok berani'. Meski gak pernah bertemu, namun gue merasa bangga karena masih bisa mendapat cerita tentang dia.
Suatu saat kakek bersama pasukannya berada di sebuah camp tentara yang berada di perbatasan Jawa Timur. Di Camp tersebut mereka merencanakan strategi untuk menyerang pasukan Belanda yang ketika itu sedang merajalela di tanah Jawa. Mereka merencanakan serangan di pagi buta, saat pasukan Belanda sedang tidur lelap dan lengah. Setelah rencana tersusun matang, kakek dan pasukan tidak tidur. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk kemudian bergerak melakukan serangan.
Namun menjelang setengah jam akan melakukan serangan ke markas Belanda, justru pasukan Belanda telah melakukan serangan terlebih dahulu mengguakan pesawat tempur. Kakek dan pasukannya kocar-kacir dibuatnya karena dihujani peluru dan dijatuhi bom dari pesawat. Teman-temannya banyak yang mati hancur berkeping-keping. Camp yang mereka buat menjadi lautan darah seketika.
Beruntung kakek cepat-cepat loncat ke sungai. Entah dengan pertolongan apa, dia bisa bertahan dalam air begitu lama. Dia menyelam hingga jauh sekali. Selama menyelam dia masih bisa melihat kilatan-kilatan bom yang menghunjam ke camp-nya. Kakek kemudian keluar dari dalam air manakala dirasakan sudah jauh dari pusat camp dan aman dari serangan pasukan udara Belanda.
Kakek gue baru sadar, rupanya ada mata-mata Belanda yang menyusup didalam pasukannya dan membocorkan semua strategi yang sudah direncanakan. Nasi sudah menjadi bubur, Kakek kemudian nggak pernah tau apakah masih ada pasukannya yang selamat dari serangan itu. Kalaupun ada, tentu mereka juga mengnggap kakek juga sudah mati berkeping-keping terkena bom Belanda yang dahsyat itu.
Waktu terus berjalan, ditengah kesengsaraannya dalam pelarian. Istrinya, Marsatun, nenek gue, sangat menantikan dia kepulangannya. Lebih sebulan kakek nggak ngasih kabar kepada keluarga setelah tersebarnya serangan pasukan Belanda di camp itu. Nenek pun pasrah, tapi dia terus menanti suaminya kembali, walaupu dalam sudah berbentuk mayat sekalipun. Syukur-sykur masih hidup.
Genap 40 puluh hari kakek tak juga pulang. Nenek dan keluarganya yang lain semakin pasrah. Mereka semua yakin, kakek gue sudah meninggal saat serangan itu. Acara 40 hari kepergian kakek pun digelar. Tetangga saling berdatangan dengan membawa kue 'apem' untuk memberikan doa bagi seseorang yang sudah meninggal dunia. Nenek terus menangis, namun tetap pasrah. Karena memang itulah resiko memiliki seorang suami tentara zaman perang ketika itu.
Acara sederhana namun banyak sekali tetanga yang hadir dan memberikan support kepada nenek dan keluarga ketika itu. Rumah nenek yag sempit sampai tidak bisa menampung tetangga. Akhirnya sebagian duduk di teras rumah.
Tanpa diketahui oleh keluarga dan tetamu yang hadir untuk memperingati 40 hari kepergian kakek. Rupanya tepat saat itu juga kakek gue pulang ke rumah. Dia terlihat kurus karena tidak mendapat asupan makanan yang layak selama dalam pelarian. Pakaiannya compang-camping dan dekil. Kakek melihat ada keramaian di rumahnya, namun masih belum tahu acara apa gerangan. Tidak mau menggangu acara, kakek menunggu di kegelapan sambil higga acara selesai. Namun dia tersentak manakala mendengar namanya dikirimi doa, karena telah meninggal dunia dan memasuki hari yang ke-40.
Mendengar doa itu dikirimkan untuk namanya, kakek seketika langsung keluar dan berdiri didepan pintu dengan wajah kurus, pucat dan pakaian compang-camping. Orang yang hadir dalam acara itu tidak percaya, tidak sedikit yang mengira itu bukan kakek gue Karimun, melainkan makhluk halus yang menjelma menyerupai dia.
Tetamu yang hadir dan asik bersantai sambil meikmati kue apem di teras rumah, seketika lari berhamburan karena ketakutan. Si pembaca do'a menguatkan doanya dengan harapan 'setan' yang mejelma di depan pintu itu segera pergi dan takut mendengar doa-doa di baca. Kakek masih belum bereaksi, dia sendiri tidak percaya jika orang-orang telah menganggapnya mati.
Dipandanginya orang-orang diseisi rumahnya dengan seksama. Dimulai dari istrinya yang menangis sambil membaca doa, begitujuga keluarga dekat lainnya.
"Ini aku, Karimun. Aku masih hidup. Jangan pada takut, ini aku Karimun, Karimun!!," kakek mengulang berkali-kali menyebut namanya. memastikan orang-orang agar percaya bahwa dia masih hidup.
Kakek gue akhirnya bercerita bagaimana dia bisa selamat dari serangan itu. Dan bagaimana dia mempertahankan diri selama dalam pelarian. Semua tamu kemudian percaya dan nenek gue adalah orang yang paling beruntung dan merasa bahagia atas kepulangan suaminya yang pernah dia anggap sudah meninggal itu. I miss U kakek....Semoga segala amalmu dan keberanianmu membela agama dan neara diterima di sisi Allah SWT..Amiin..!! kakek tetap pahlawan bagi gue..
Read More......
Senin, 01 Desember 2008
Dalam Waktu 24 Jam...
Sobat-sobit ku sekalian, baik yang merasa pendek, tinggi, item, putih, bulat, kotak, lonjong, gemuk, kurus, pinter, penyakitan dan yang begok sekalipun. Mari kita akhiri tahun 2008 ini dengan melakukan instropeksi dengan dimulai dari awal bulan Desember ini.
Saya, kamu, dia dan kita semua setiap hari telah melakukan rutinitas dalam jangka waktu yang sama. Tidak ada yang lebih lama, dan tidak ada yang lebih sebentar, yakni hanya dalam kurun waktu 24 jam. Bagi kalian yang sadar, jangan segan-segan untuk melakukan anggukan tanda benar yang saya katakan.
Terserah bagaimana anda menilai sepanjang 24 jam itu. Apakah tergolong waktu yang singkat atau proporsional. Bagi saya pribadi, waktu itu adalah waktu yang dipaksakan untuk kita semua agar berbuat maksimal, karena kita tidak punya pilihan lain. Intinya, kita sanggup menghadapinya atau tidak. Atau kita akan kocar-kacir kejar-kejaran dengan waktu sepanjang masa. Dan siap ataupun tidak, selama nafas kita masih berhembus wajib menghadapinya. Perputaran waktu tidak pernah lebih cepat dan tidak pernah melambat. Namun rutinitas kita yang semakin padat telah membuatnya menjadi teramat singkat.
Mengatur waktu adalah langkah tepat dari pada diatur waktu. Dan semua orang sukses rata-rata karena berhasil mengatur waktu.
Mereka yang sukses juga tidak pernah diberi waktu yang lebih, tetap hanya 24 jam. Sementara mereka yang gagal juga demikian. Sukses atau tidak, bisa dilihat bagaimana seseorang berhasil mengatur waktu 24 jam itu.
Dalam Waktu 24 jam, ternyata seseorang bisa mengatur Kabupaten, bisa mengatur sebuah Provinsi, bisa mengatrur Negara dan bahkan bisa mengatur dunia. Tapi tidk sedikit juga, orang yang susah mengatur dirinya sendiri dalam 24 jam itu. Jangan mengeluh karena hanya diberi waktu 24 jam, karena mengeluh itu tanda tidak sanggup menghadapinya.
Mari Merenung:
1. Apa yang akan saya lakukan dalam tempo 24 jam besok, besok dan besok?
2. Program terbesar apa yang akan saya fokuskan dalam 24 jam besok?
3. Bagaimana saya mengatur waktu 24 jam itu?
4. Mengapa waktu 24 jam saya selama ini tersia-siakan?
5. Baik atau burukkah saya melakukan 'ini' atau 'itu' di 24 jam besok?
6. Mengtapa saya selalu diatur oleh waktu 24 jam itu?..
7. Terpaksa atau wajarkan saya harus meghadapi 24 jam itu?....
Read More......
Jumat, 28 November 2008
Aku Cinta Tanjungpinang
Assalamualaikum teman-teman semua. Ada gagasan yang harus saya goreskan di dalam blog pribadi saya pada kesempatan kali ini, sebelum dianya tumpah dari kepala saya karena sebetar lagi luber dipenuhi dengan gagasan-gaagsan yang lain.
Aku Cinta Tanjungpinang', nilah judul esay kali ini , dan Saya rasa memang dimikian adanya. Saya sudah sejak 1985 di Kota yang 'penuh misteri' ini. Waktu itu saya hijrah dari tanah kelahiran saya di Lampung, dan saya baru menginjak usia 6 tahun saat itu. Saya katakan misteri karena kota ini memang membingungkan sekaligus memberi kesan tersendiri bagi saya.
Kemajemukan suku bangsa bercampur baur didalam kota kecil yang dijuluki Kota Gurindam, Negeri Pantun ini. Melayu, Jawa, Bugis, Batak, Padang, Flores, Chines, Ambon, Aceh dan sebagainya semuaya tunduk dan melebur dalam payung Budaya Melayu yang Religius, damai, mengayomi. Kala itu Tanjungpinang masih menjadi Kota admiistratifya Kabupaten Kepulaua Riau.
Sungguh memabukkan tinggal di kota ini. Bukan tempat transaksi mariyuwana sehingga saya katakan kota yang indah ini memabukkan. Bukan pula tempat memproduksi anggur terbesar di dunia, atau pusat kebun ganja dan pabrik ekstasi, bukan. Tapi Kota ini begitu memabukkan dengan nilai-nilia eksotismenya yang cukup dinamis, romantis da religius.
Ops! nanti dulu. Teman-teman jangan salah tafsir atas tulisan ini . Saya tidak berniat utuk memuji siapapun yang pernah memimpin atu siapapun yang sedang memimpin negeri ini. Demi Tanjungpinang yang saya cintai, tulisan ini tidak untuk memuji seseorang , atau siapapun yang sedang menampuk kekuasaan atas kota yang sarat dengan nilai-nilai sejarah ini. Serta tidak juga untuk mendeskriditkan seseorang. Dari lubuk hati yang terdalam 'Saya Cinta Tanjungpinang' karena kota ini yang telah mengasah otak saya menuju kedewasaan.
Tanjungpinang adalah milik semua orang yang ada didalamnya. Tidak ada yang merasa paling berhak untuk memilikinya, dan tidak ada pula yang merasa paling berkuasa atasnya. Semua memiliki hak yang sama atas Tanjungpinang, semua memiliki kesempatan sama untuk hidup layak di Kota Tajungpinang. Semua memiliki hak untuk mencintainya dan memusuhi siapapun yang ingin mengobr-akabrik kedamaian yang bersemayam didalamnya.
'Aku Cintau Kau'
Tanjungpinang..
Hingga senja sebegini usiamu..
Masih saja 'tak ade' jawaban tujuan dari bibirmu..
Kian waktu persoalan rumit semaki menghimpit..
Masih juga kau jawab 'tak payah'..
Kerusuhan terjadi dimana-mana..
kau pun hanya menjawab 'biar aje lah'..
Tanjungpinang
Ketika aku Bilang 'Aku Cinta Kau'..
Saat itulah kau baru tersenyum dan sedikit melirik dari tundukmu..
Kemudian kau pun berbalik dan berlari..
Setengah berteriak kuulangi ucapanku "Aku Cinta Kau'..
Kemudian kau berhenti namun masih membelakangi..
Terakhir kuucapkan lagi dengan lirih dari dasar hati 'Aku Cinta Kau'..
Kemudian cairan bening mengalir di pipimu,
Turun ikut kontur pori-porimu yang meregang..
Tanjungpinang..
Kenapa takut kau mebalas Cintaku..bisikku
Melayuku memang tak fasih, tapi niatku tulus untukmu...
Aku Cinta Tanjungpinang', nilah judul esay kali ini , dan Saya rasa memang dimikian adanya. Saya sudah sejak 1985 di Kota yang 'penuh misteri' ini. Waktu itu saya hijrah dari tanah kelahiran saya di Lampung, dan saya baru menginjak usia 6 tahun saat itu. Saya katakan misteri karena kota ini memang membingungkan sekaligus memberi kesan tersendiri bagi saya.
Kemajemukan suku bangsa bercampur baur didalam kota kecil yang dijuluki Kota Gurindam, Negeri Pantun ini. Melayu, Jawa, Bugis, Batak, Padang, Flores, Chines, Ambon, Aceh dan sebagainya semuaya tunduk dan melebur dalam payung Budaya Melayu yang Religius, damai, mengayomi. Kala itu Tanjungpinang masih menjadi Kota admiistratifya Kabupaten Kepulaua Riau.
Sungguh memabukkan tinggal di kota ini. Bukan tempat transaksi mariyuwana sehingga saya katakan kota yang indah ini memabukkan. Bukan pula tempat memproduksi anggur terbesar di dunia, atau pusat kebun ganja dan pabrik ekstasi, bukan. Tapi Kota ini begitu memabukkan dengan nilai-nilia eksotismenya yang cukup dinamis, romantis da religius.
Ops! nanti dulu. Teman-teman jangan salah tafsir atas tulisan ini . Saya tidak berniat utuk memuji siapapun yang pernah memimpin atu siapapun yang sedang memimpin negeri ini. Demi Tanjungpinang yang saya cintai, tulisan ini tidak untuk memuji seseorang , atau siapapun yang sedang menampuk kekuasaan atas kota yang sarat dengan nilai-nilai sejarah ini. Serta tidak juga untuk mendeskriditkan seseorang. Dari lubuk hati yang terdalam 'Saya Cinta Tanjungpinang' karena kota ini yang telah mengasah otak saya menuju kedewasaan.
Tanjungpinang adalah milik semua orang yang ada didalamnya. Tidak ada yang merasa paling berhak untuk memilikinya, dan tidak ada pula yang merasa paling berkuasa atasnya. Semua memiliki hak yang sama atas Tanjungpinang, semua memiliki kesempatan sama untuk hidup layak di Kota Tajungpinang. Semua memiliki hak untuk mencintainya dan memusuhi siapapun yang ingin mengobr-akabrik kedamaian yang bersemayam didalamnya.
'Aku Cintau Kau'
Tanjungpinang..
Hingga senja sebegini usiamu..
Masih saja 'tak ade' jawaban tujuan dari bibirmu..
Kian waktu persoalan rumit semaki menghimpit..
Masih juga kau jawab 'tak payah'..
Kerusuhan terjadi dimana-mana..
kau pun hanya menjawab 'biar aje lah'..
Tanjungpinang
Ketika aku Bilang 'Aku Cinta Kau'..
Saat itulah kau baru tersenyum dan sedikit melirik dari tundukmu..
Kemudian kau pun berbalik dan berlari..
Setengah berteriak kuulangi ucapanku "Aku Cinta Kau'..
Kemudian kau berhenti namun masih membelakangi..
Terakhir kuucapkan lagi dengan lirih dari dasar hati 'Aku Cinta Kau'..
Kemudian cairan bening mengalir di pipimu,
Turun ikut kontur pori-porimu yang meregang..
Tanjungpinang..
Kenapa takut kau mebalas Cintaku..bisikku
Melayuku memang tak fasih, tapi niatku tulus untukmu...
Tak 'Said' diawal namaku, tak 'syarifah' dan tak pula 'Wan'..
Namun aku tetap inginkan kau jadi tujuanku..
Jika kau tidak menerimaku, dimana akan kulabuhkan hatiku..
Aku sungguh Cinta Kau Tanjuungpinang...
Jika kau tidak menerimaku, dimana akan kulabuhkan hatiku..
Aku sungguh Cinta Kau Tanjuungpinang...
Sungguh..!
Read More......
Selasa, 25 November 2008
Pengemis Jalanan
Diacuhkannya emosi sang Surya,
yang menampar dan mencambuk dengan bengis..
Dielusnya semangat dengan butiran-butiran keringat,
sambil membisikkan harapan kepada diri sendiri..
Disapanya dengan tulus jabatan aspal yang membara,
yang setia membakar asa di kaki telanjangnya..
Adalah tontonan terindah melihat belatung-belatung menari erotis..
Lalat-lalat besenandung dengan komposisi tidak lagi Do, Re ataupun Mi..
Tidak dinikmati dari bar ke bar atau cafe ke cafe..
Tapi dari tempat pembuangan sampah yang satu ke yang lain..
Sekarung harapan menggembol dipunggung Pengemis Jalanan...
Dikumpulkannya sisa-sisa masa depan orang lain untuk keluarga..
Untuk sekolah anak, untuk asap dapur agar tetap mengepul
dan untuk menyogok kehidupan..
Dekil, kusam, lusuh, kumuh dan bau tubunyah..
Sunggingan senyum tetap terlontar walau tidak ada yang membalas..
'Setidaknya aku senyum untuk dunia ini' ujarnya.. Read More......
yang menampar dan mencambuk dengan bengis..
Dielusnya semangat dengan butiran-butiran keringat,
sambil membisikkan harapan kepada diri sendiri..
Disapanya dengan tulus jabatan aspal yang membara,
yang setia membakar asa di kaki telanjangnya..
Adalah tontonan terindah melihat belatung-belatung menari erotis..
Lalat-lalat besenandung dengan komposisi tidak lagi Do, Re ataupun Mi..
Tidak dinikmati dari bar ke bar atau cafe ke cafe..
Tapi dari tempat pembuangan sampah yang satu ke yang lain..
Sekarung harapan menggembol dipunggung Pengemis Jalanan...
Dikumpulkannya sisa-sisa masa depan orang lain untuk keluarga..
Untuk sekolah anak, untuk asap dapur agar tetap mengepul
dan untuk menyogok kehidupan..
Dekil, kusam, lusuh, kumuh dan bau tubunyah..
Sunggingan senyum tetap terlontar walau tidak ada yang membalas..
'Setidaknya aku senyum untuk dunia ini' ujarnya.. Read More......
Jumat, 21 November 2008
Menjemput Cucu.......
Pak Tua tampak memaksa motor butunya dipacu sampai keluar asap hitam. Dia mengejar waktu yang tidak bisa diajak komfromi. Suara mesin motor china (mochin) keluaran tahun 2000 warna merah yang dia kendarai meraung-raung minta ampun. Suaranya terdengar lebih kencang dibanding kecepatannya yang tidak lebih 40 kilometer per jam, meski sudah di gas sampai pol alias mentok.
Rambut dan jambang putih yang tidak terawat menjadikan performennya tampak abstak hari itu. Ditambah lagi body motornya yang dipenuhi lumpur karena sudah lama tidak dicuci. Velgnya karatan dan kaca sepionnya hanya tinggal kerangka.
Orang-orang memanggilnya Pak Tua, dan entah siapa nama sebenarnya. Tak satupun oang yang tau, termasuk anaknya sendiri. Suara mesin motornya terus meraung-raung dan asap hitam mengepul hebat seperti ceobong asap pabrik batu bata. Namun Pak Tua tidak mempedulikannya.
Cilaka!! Mesin Motor Pak Tua tiba-tiba mati tanpa diketahui penyebabnya. Dengan tergopoh-gopoh Pak Tua segera menepikan rongsokan yang dikendarainya itu. Dipandanginya sekejap busi dan beberapa panel kabel disekitar mesin, termasuk kaburatornya. Namun dia menganggap tidak ada masalah dengan perkakas disekita sana. Langkah berikutnya Pak Tua membuka tanky tempat bensin. Dan tenyata benar dugaannya, bensin di tanki itu sudah tidak ada sama sekali. Kering kerontang seperti sisa-sisa lumpur yang menempel di velg kedua roda motornya.
Pak Tua sadar, dia telah mendapat musibah diwaktu yang tidak tepat dan ditempat yang kurang menguntungkan pula. Posisinya jauh dari keramaian. Tidak ada satupun penjual bensin eceran yang terihat disekitar itu. Sementara dia harus segera menjemput cucunya yang duduk disekolah TK Harapan yang jaraknya masih harus dia tempuh sekitar 4 kilometer lagi. Dan satu-satunya solusi, Pak Tua harus mendorong rongsokannya, sambil berharap bertemu penjual bensin eceran dalam perjalanan.
Diliriknya sebuah arloji lawas ditangan kirinnya. Waktu menunjukkan pukul 10.20 WIB, matahai sudah mulai menyengat. Cucunya keluar kelas pukul 10.30 WIB. Masih ada 10 menit untuk sampai tujuan, pikir Pak Tua. Namun, tidak mungkin terkejar jika ditempuh dengan jalan kaki. Tidak ada pilihan, pak tua pun pasrah dan tetap mendorong motonya sambil sesekali menyeka keringat yang meleleh dikeningnya.
"Tiiiiiin..tiiiiiiiiin..," tiba tiba pak tua dikagetkan dengan suara klakson mobil. Segera Pak Tua menoleh kebelakang. Dilihatnya sebuah mobil escudo putih menepi dan mendekatinya. Namun Pak Tua belum kenal, siapa orang yang bersembunyi dibalik kaca ribend mobil mulus itu. Pak Tua baru menyunggingkan senyumnya tatkala kaca pintu mobil diturunkan.
"Kenapa motornya pak," kata orang didalam mobil yang tak lain adalah Bono. Keduanya penah saling bertetangga, sebelum Pak Tua diusir dari kontrakan lamanya karena telat bayar.
"Ini mas Bono. Motor saya habis bensin. Mau beli, tapi disekitar sini nggak ada yang jual," ujar Pak Tua.
"Jadi bapak mau dorong motor ini,"
"Abis mau bagaimanalagi pak,"
"Tunggu sebentar pak," Bono lalu keluar dari mobilnya dan berlari menuju rumah terdekat yang dia lihat. Dalam waktu sekejab, Bono sudah kembali lagi dengan membawa seutas selang pulih kecil dan panjangnya sekita 1,5 meter.
"Saya sedotkan bensin dari mobil saya dulu ya pak. Yang penting bapak nggak mendoong," kata Bono.
"Wah terimakasih sekali kalo gitu mas. Untung ada mas Bono," kata Pak Tua.
Sambil menungu proses bensin di sedot, keduanya saling hanyut dalam obrolan. Mereka kemudian saling mengerti maksud dan tujuan masing-maing saat itu. Dan proses pengisian BBM pun selesai.
"Terimakasih ya mas Bono. Semoga proyeknya lancar," kata Pat Tua.
"Teimakasih juga pak. Semoga tidak telat sampai disekolahan," keduanya saling berbagi tawa.
Pak Tua kembali menggeber mochin-nya untuk mengejar waktu yang semakin mepet. Asap hitam kembali mengepul dari knalpot motonya. Sedangkan Bono lebih dulu pergi meninggalkan mantan tetangganya itu.
"Teng..teng..teng," jam pelajaran sekolah selesai. Anak-anak TK satu persatu keluar dari ruangannya. Pak Tua sudah menungu di gerbang sekolah, tempat dimana cucu kesayangannya mulai menimba ilmu. Dia senang kaena bisa tiba lebih awal sebelum jam pelajaran sekolah usai.
"Kakeeek," teriak cucunya yang sudah hafal dimana kakeknya akan berdiri saat menjemputnya. Pak Tua menyambut dengan senyum dan kemudian menggendongnya. Read More......
Rambut dan jambang putih yang tidak terawat menjadikan performennya tampak abstak hari itu. Ditambah lagi body motornya yang dipenuhi lumpur karena sudah lama tidak dicuci. Velgnya karatan dan kaca sepionnya hanya tinggal kerangka.
Orang-orang memanggilnya Pak Tua, dan entah siapa nama sebenarnya. Tak satupun oang yang tau, termasuk anaknya sendiri. Suara mesin motornya terus meraung-raung dan asap hitam mengepul hebat seperti ceobong asap pabrik batu bata. Namun Pak Tua tidak mempedulikannya.
Cilaka!! Mesin Motor Pak Tua tiba-tiba mati tanpa diketahui penyebabnya. Dengan tergopoh-gopoh Pak Tua segera menepikan rongsokan yang dikendarainya itu. Dipandanginya sekejap busi dan beberapa panel kabel disekitar mesin, termasuk kaburatornya. Namun dia menganggap tidak ada masalah dengan perkakas disekita sana. Langkah berikutnya Pak Tua membuka tanky tempat bensin. Dan tenyata benar dugaannya, bensin di tanki itu sudah tidak ada sama sekali. Kering kerontang seperti sisa-sisa lumpur yang menempel di velg kedua roda motornya.
Pak Tua sadar, dia telah mendapat musibah diwaktu yang tidak tepat dan ditempat yang kurang menguntungkan pula. Posisinya jauh dari keramaian. Tidak ada satupun penjual bensin eceran yang terihat disekitar itu. Sementara dia harus segera menjemput cucunya yang duduk disekolah TK Harapan yang jaraknya masih harus dia tempuh sekitar 4 kilometer lagi. Dan satu-satunya solusi, Pak Tua harus mendorong rongsokannya, sambil berharap bertemu penjual bensin eceran dalam perjalanan.
Diliriknya sebuah arloji lawas ditangan kirinnya. Waktu menunjukkan pukul 10.20 WIB, matahai sudah mulai menyengat. Cucunya keluar kelas pukul 10.30 WIB. Masih ada 10 menit untuk sampai tujuan, pikir Pak Tua. Namun, tidak mungkin terkejar jika ditempuh dengan jalan kaki. Tidak ada pilihan, pak tua pun pasrah dan tetap mendorong motonya sambil sesekali menyeka keringat yang meleleh dikeningnya.
"Tiiiiiin..tiiiiiiiiin..," tiba tiba pak tua dikagetkan dengan suara klakson mobil. Segera Pak Tua menoleh kebelakang. Dilihatnya sebuah mobil escudo putih menepi dan mendekatinya. Namun Pak Tua belum kenal, siapa orang yang bersembunyi dibalik kaca ribend mobil mulus itu. Pak Tua baru menyunggingkan senyumnya tatkala kaca pintu mobil diturunkan.
"Kenapa motornya pak," kata orang didalam mobil yang tak lain adalah Bono. Keduanya penah saling bertetangga, sebelum Pak Tua diusir dari kontrakan lamanya karena telat bayar.
"Ini mas Bono. Motor saya habis bensin. Mau beli, tapi disekitar sini nggak ada yang jual," ujar Pak Tua.
"Jadi bapak mau dorong motor ini,"
"Abis mau bagaimanalagi pak,"
"Tunggu sebentar pak," Bono lalu keluar dari mobilnya dan berlari menuju rumah terdekat yang dia lihat. Dalam waktu sekejab, Bono sudah kembali lagi dengan membawa seutas selang pulih kecil dan panjangnya sekita 1,5 meter.
"Saya sedotkan bensin dari mobil saya dulu ya pak. Yang penting bapak nggak mendoong," kata Bono.
"Wah terimakasih sekali kalo gitu mas. Untung ada mas Bono," kata Pak Tua.
Sambil menungu proses bensin di sedot, keduanya saling hanyut dalam obrolan. Mereka kemudian saling mengerti maksud dan tujuan masing-maing saat itu. Dan proses pengisian BBM pun selesai.
"Terimakasih ya mas Bono. Semoga proyeknya lancar," kata Pat Tua.
"Teimakasih juga pak. Semoga tidak telat sampai disekolahan," keduanya saling berbagi tawa.
Pak Tua kembali menggeber mochin-nya untuk mengejar waktu yang semakin mepet. Asap hitam kembali mengepul dari knalpot motonya. Sedangkan Bono lebih dulu pergi meninggalkan mantan tetangganya itu.
"Teng..teng..teng," jam pelajaran sekolah selesai. Anak-anak TK satu persatu keluar dari ruangannya. Pak Tua sudah menungu di gerbang sekolah, tempat dimana cucu kesayangannya mulai menimba ilmu. Dia senang kaena bisa tiba lebih awal sebelum jam pelajaran sekolah usai.
"Kakeeek," teriak cucunya yang sudah hafal dimana kakeknya akan berdiri saat menjemputnya. Pak Tua menyambut dengan senyum dan kemudian menggendongnya. Read More......
Langgan:
Entri (Atom)

